Showing posts with label Lingkungan. Show all posts
Showing posts with label Lingkungan. Show all posts

Friday, September 11, 2015

Hei Indonesia, Kabut Asap dari Sumatera Sampai di Malaysia Nih!


Asap dari kebakaran lahan dan hutan di Pulau Sumatera, Indonesia sampai juga ke Malaysia. Asap menyelimuti kawasan Petaling Jaya, Selangor, Malaysia.

Dalam foto yang diambil warga Indonesia Andika yang bermukim di Malaysia pagi ini, Jumat (11/9/2015), asap terlihat jelas. Asap ini kiriman dari Sumatera.

"Saya dan keluarga sudah hampir 3 tahun ini tinggal di Petaling Jaya, Selangor, Malaysia. Apa pemerintah RI nggak malu ya negeri orang sampai seperti ini? Berita bencana asap di media cetak Malaysia sepertinya lebih banyak porsinya daripada berita di media di Indonesia," terang Andika dalam surat elektronik ke redaksi@detik.com.

"Entah kenapa sepertinya bencana yang tidak berdampak ke Jakarta sepertinya dianggap enteng. Teman-teman di Riau sudah tidak bisa beraktivitas normal, anak-anak sudah tidak bisa bersekolah," tambahnya.

Dia berharap pemerintah Indonesia mengambil tindakan segera memadamkan api, juga media di Indonesia juga kritis memberitakan.

"Sebagai WNI saya tunggu tindakan cepat pemerintah pusat. Indonesia bukan hanya DKI dan sekitarnya," tutup dia.
(dra/dra)

http://news.detik.com/berita/3016661/hei-indonesia-kabut-asap-dari-sumatera-sampai-di-malaysia-nih

Tuesday, August 11, 2015

Di Indonesia, 60 Juta Orang BAB Sembarangan


Kualitas sanitasi di Indonesia dinilai masih sangat kurang dan jauh dari memadai. Sanitasi yang sudah cukup layak pun hanya dapat ditemui di kota-kota besar.


Menurut Sekretaris Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan perumahan Rakyat (PUPR), Rina Agustin, sebanyak 39 persen penduduk Indonesia masih membuang air besar (BAB) secara sembarangan. Jika merujuk angka di tiap kabupaten atau kota, sanitasi dengan kualitas rendah mencapai 50 persen. 

Rina menuturkan, keadaan sanitasi yang tidak layak juga ditemukan di kota dekat Jakarta. Di Sukabumi, misalnya, ia menemukan wanita berusia sekitar 25 tahun yang membuang hajat di kebun.

"Secara nasional, sebanyak 60 juta orang masih buang air besar (BAB) sembarangan. Akibatnya, 5 juta bayi di Indonesia berpotensi atau berisiko kematian," ujar Rina di Kementerian PUPR, Jakarta, Selasa (11/8/2015).
Data Unicef menyebutkan, banyak yang meninggal saat dilahirkan. Ini kemungkinan besar karena kesehatannya. Di samping itu, air yang digunakan tidak bersih dan kondisi sanitasi tidak layak.

Rina mengaku prihatin atas kondisi tersebut dan berupaya untuk mempelajari angka-angka yang menunjukkan kurangnya akses sanitasi yang layak. Harapannya, ke depan, kondisi kesehatan bisa meningkat.

Selama ini, lanjut dia, urusan sanitasi sering kali dikesampingkan dan tidak menjadi prioritas pemerintah, baik pusat maupun daerah. Meski begitu, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pemerintah mengagendakan akses universal terkait sanitasi dengan anggaran hanya 20 persen dari kebutuhan.

Dengan demikian, kata Rina, pemerintah daerah harus bergerak bersama pemerintah pusat untuk menyukseskan akses sanitasi 100 persen. Untuk mewujudkan 61 persen penduduk mendapatkan akses sanitasi layak, prosesnya membutuhkan waktu 30 tahun.

Untungnya, melalui RPJMN tersebut, pemerintah bergerak agresif. Sanitasi masuk dalam program percepatan pembangunan dan target pada 2019 seluruh penduduk Indonesia bisa mengakses sanitasi yang layak.
 
http://properti.kompas.com/read/2015/08/12/024842721/Di.Indonesia.60.Juta.Orang.BAB.Sembarangan?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Khlwp

Monday, June 2, 2014

Energi Fosil Indonesia Habis 11 Tahun Lagi

Institut Garuda Nusantara (IGN) menyelenggarakan sarasehan bertema "Kedaulatan Energi Syarat Mutlak Ketahanan Bangsa" dalam rangka mencari solusi efektif terhadap krisis energi yang terjadi di Indonesia.

Direktur Eksekutif IGN Rachmat Pambudy, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sejak 2003, defisit energi migas di Indonesia telah membawa Indonesia pada level mengkhawatirkan.

"Energi fosil yang ada di bumi Indonesia diperkirakan akan habis dalam 11 tahun mendatang, hal ini diperparah dengan pemborosan dalam cara penggunaan energi fosil," paparnya di Jakarta, Senin (2/6/2014).

Menurutnya, penduduk Indonesia yang semakin meningkat menyebabkan konsumsi energi per kapita terus meningkat. "Peningkatannya mencapai 7 persen per tahun, kita juga menghadapi masalah logistik yang berat dan mahal, dengan belum adanya sistem produksi energi setempat," jelasnya.

Menurutnya saat ini Indonesia masih menjadi pengimpor pangan dan energi yang cukup besar. Karenanya, impor ini akan menjadi beban pada APBN. "Tahun-tahun yang akan datang akan menjadi berat bagi kita, terlebih kalau batu bara habis, gas habis," tuturnya. 

Dia meyakini, spektrum permasalahan energi di Indonesia sangatlah kompleks. Dia menilai, Indonesia memerlukan kebijakan energi yang dapat mengelola energi dalam negeri secara mandiri. "Diperlukan kesungguhan pemerintah dalam mengelola energi non-fosil," tukas dia.


http://economy.okezone.com/read/2014/06/02/19/992794/energi-fosil-indonesia-habis-11-tahun-lagi

Tuesday, May 20, 2014

Kulkas Tanpa Listrik Karya Siswi SMA Sumsel Jadi Juara di AS

Dua siswi SMA Negeri 2 Sekayu, Sumatera Selatan, yaitu Muhtaza Aziziya Syafiq dan Anjani Rahma, meraih dua penghargaan di Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2014 di Los Angeles, Amerika Serikat, pada 11-16 Mei 2014. Mereka melakukan penelitian dan pengembangan kulkas tanpa listrik dan tanpa freon.

Melalui karya ilmiah berjudul "Green Refrigerant Box", Muhtaza dan Anjani sukses meraih penghargaan Development Focus Award dan hadiah senilai 10.000 dollar AS dari US Agency for International Development (USAID). Mereka juga meraih Penghargaan Ketiga senilai 1.000 dollar AS di kategori Engineering: Materials & Bioengineering.

Karya ilmiah kulkas tanpa listrik dan freon ini fokus pada pemanfaatan kayu gelam sebagai solusi alternatif untuk pendingin buah dan sayur.

Dengan teknologi yang dikembangkan Muhtaza dan Anjani, suhu awal 28 derajat celsius di kulkas tanpa listrik dan freon ini mampu turun menjadi 5,5 derajat celsius dalam waktu 2 jam 20 menit.

Ide mengembangkan teknologi tersebut didasari atas potensi sumber daya alam buah-buahan dan sayur-sayuran di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Namun, daerah itu memiliki masalah yang berkaitan dengan listrik.

Intel selaku pihak yang membawa teknologi Muhtaza dan Anjani ke Intel ISEF 2014 percaya bahwa generasi muda adalah kunci untuk mengembangkan inovasi. Muhtaza dan Anjani diharapkan bisa menjadi inspirasi siswa lain untuk terlibat dalam ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika sebagai dasar untuk kreativitas.
  
“Dunia membutuhkan lebih banyak ilmuwan, kreator, dan pengusaha untuk menciptakan lapangan pekerjaan, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan mengatasi tantangan global,” kata Director Public Affairs Intel Indonesia, Deva Rachman.

Intel ISEF tahun ini diikuti oleh lebih dari 1.700 ilmuwan muda yang dipilih dari 435 kompetisi di lebih dari 70 negara di seluruh dunia.

Selain pemenang utama, lebih dari 500 finalis menerima penghargaan dan hadiah untuk penelitian inovatif mereka, termasuk 17 pemenang Best of Category, yang masing-masing menerima hadiah sebesar 5.000 dollar AS. Intel Foundation juga memberikan hibah senilai 1.000 dollar AS untuk masing-masing sekolah dari pemenang dan kompetisi lokal yang mereka wakili.

Selain itu, Intel Foundation juga memilih sejumlah siswa yang mendapatkan penghargaan untuk menghadiri kompetisi sains selama 11 hari di Tiongkok. Mereka berkesempatan berbicara dengan para peneliti Intel di Shanghai dan mengunjungi Pusat Penelitian Panda di Chengdu.


http://tekno.kompas.com/read/2014/05/19/1434144/Kulkas.Tanpa.Listrik.dari.Sumatera.Juara.di.AS

Thursday, April 17, 2014

Butuh Rp 270 T Alirkan Air Bersih ke Seluruh Rumah di RI

Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPP SPAM) mengungkapkan pada 2013 lalu, pelayanan air minum di seluruh Indonesia mencapai 67,73 persen. Angka ini ditargetkan memenuhi asumsi Millenium Development Goals (MDG) yakni sebesar 68,87 persen pada 2015.

Kepala BPP SPAM Tamin M Zakaria Amin, Kamis 17 April 2014, mengungkapkan Kementerian Pekerjaan Umum menargetkan pemenuhan air minum bagi seluruh rakyat Indonesia pada 2019. "Kita targetkan cakupan air ke masyarakat Indonesia mencapai 100 persen pada 2019," katanya, saat ditemui dalam acara konfrensi pers di Jakarta.

Untuk mencapai 100 persen tersebut, menurut Tamin, paling tidak butuh dana sebesar Rp270 triliun. Dana ini diharapkan akan didapatkan dari pemerintah pusat sebesar Rp80 triliun. Sedangkan sisanya Rp180 triliun, diharapkan berasal dari sumber lain.
Sumber-sumber tersebut adalah pemerintah daerah, perusahaan daerah air minum (PDAM), pinjaman perbankan, dan pembiayaan dari kerja sama pemerintah swasta (private public partnership/PPP).

Ia mengungkapkan, proses pemenuhan air bersih ini sangat tergantung dukungan dari pemerintah daerah. Sebab, pemerintah daerahlah yang menentukan tarif terhadap PDAM-PDAM yang ada di daerah mereka.

Jika diberikan tarif terlalu murah, menurut Tamin, PDAM akan merugi dan perusahaan tidak akan sehat. Dengan demikian, akan semakin banyak penyimpangan-penyimpangan dan penyelewengan yang akan terjadi.

Selain itu, ia juga menekankan dibutuhkannya jiwa entrepreneurship di pemimpin PDAM-PDAM ini. Sebab, tanpa jiwa enterpreneur ini PDAM hanya akan menunggu kehancuran.

Hal ini, kata Tamin, sudah terjadi di beberapa kota yang saat ini PDAM-nya maju seperti Banjarmasin dan Palembang. Di Kedua kota tersebut, cakupan air bersih sudah di atas 90 persen, termasuk yang tertinggi di kota kota lain di seluruh Indonesia.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa saat ini dari hasil audit 350 PDAM, pada tahun lalu terdapat 176 PDAM sehat, 104 PDAM kurang sehat, dan 70 PDAM dalan keadaan sakit. "Yang sehat-sehat ini, karena didukung pemerintah daerahnya selaku pemilik," katanya. (umi)


© VIVA.co.id

Monday, February 3, 2014

Alam Indonesia Sedang Mencari Keseimbangan Baru

Gejolak alam yang melanda Indonesia saat ini seringkali dianggap sebagai bencana lantaran menimbulkan kerusakan di mana-mana. Padahal, menurut Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Prabowo, saat ini alam tengah mencari keseimbangan baru untuk untuk bagian alam yang lainnya.

“Alam saat ini sedang mencari keseimbangan baru. Pada saat ini, gaya desakan dan dorongan energi dari dalam bumi menyebabkan retakan sehingga tanah akan bergeser kemudian menyebabkan longsor misalnya ini akan menyebabkan ketidakseimbangan alam,” kata Prabowo saat berbincang dengan Okezone, Senin (3/2/2014) malam.

Selain itu, kata Prabowo, meletusnya Gunung Sinabung merupakan dampak dari ketidakseimbangan alam karena adanya magma dingin yang masih belum keluar dari dalam perut bumi.

“Kondisi yang gejolak alam yang terjadi bersamaan menunjukkan adanya akumulasi ketidakseimbangan alam yang bersamaan. Hanya saja karena terjadi mendadak, menimbulkan bahaya dan bencana,” terangnya.

Disampaikan Prabowo, setelah alam stabil dan menemukan keseimbangan baru, gejolak alam akan mereda dan membawa dampak positif bagi masyarakat.

“Gunung meletus, magma keluar dan membawa batuan yang cukup subur untuk lahan pertanian. Tapikan memang sebelum menjadi tanah yang subur, dia akan merusak dulu. Pada long term-nya, alam akan bisa digunakan dengan lebih baik,” ucapnya.
(ful)

http://news.okezone.com/read/2014/02/04/337/935671/alam-indonesia-sedang-mencari-keseimbangan-baru

Tuesday, January 28, 2014

Nuklir Pilihan Terakhir Energi Indonesia

Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat sepakat dapat menggunakan tenaga nuklir sebagai sumber energi. Namun, tenaga nuklir menjadi pilihan terakhir dalam pemanfaatan sumber daya energi nasional dengan memperhatikan faktor keselamatan secara ketat.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyetujui rancangan peraturan pemerintah tentang kebijakan energi nasional (RPP KEN) disahkan menjadi PP pada Selasa (28/1/2014), di Jakarta. Acara itu dihadiri Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik yang menjabat sebagai Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN). Sebelumnya, RPP KEN yang disusun DEN itu telah disetujui Komisi VII DPR.

Ketua Komisi VII DPR Sutan Bhatoegana menyatakan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, DEN merancang dan merumuskan kebijakan energi nasional untuk ditetapkan pemerintah setelah mendapat persetujuan dari DPR. Alasannya, kebijakan energi nasional itu menyangkut hajat hidup orang banyak dan bertujuan agar isi aturan itu sesuai amanat UU. Sebagai acuan, Komisi VII DPR telah melaksanakan studi banding ke Norwegia, Selandia Baru, dan China.

Jero Wacik menegaskan, dengan pengesahan kebijakan energi itu, semua program bidang energi sampai tahun 2050 harus mengacu pada KEN. Selanjutnya, pemerintah akan menyiapkan rencana umum energi nasional dan daerah. Jadi, daerah penghasil energi jangan sampai kekurangan energi. ”Prinsip dasarnya, kurangi ketergantungan pada minyak,” katanya.

Sebagai contoh, peran minyak ditargetkan turun dari 49 persen menjadi di bawah 25 persen tahun 2025, dan di bawah 20 persen tahun 2050. Peran batu bara minimal 30 persen tahun 2025 dan minimal 25 persen tahun 2050, peran gas bumi minimal 22 persen tahun 2025 dan minimal 24 persen tahun 2050. Peran energi baru terbarukan akan naik drastis dari sekitar 6 persen menjadi minimal 23 persen tahun 2025 dan 31 persen tahun 2050.

Dalam PP itu, prioritas pengembangan energi mempertimbangkan keseimbangan keekonomian energi, keamanan pasokan energi, pelestarian fungsi lingkungan, dan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk itu, ekspor energi fosil dikurangi secara bertahap, terutama gas dan batubara, menetapkan batas waktu untuk mulai menghentikan ekspor.

Di antara sumber energi yang ada di Indonesia, energi nuklir menjadi pilihan terakhir dengan memperhatikan faktor keselamatan secara ketat. Pemanfaatan energi nuklir itu dengan mempertimbangkan keamanan pasokan energi nasional, mengurangi emisi karbon, dan tetap mendahulukan potensi energi baru terbarukan sesuai nilai keekonomiannya. (EVY)


http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/01/29/0715489/Nuklir.Jadi.Pilihan.Terakhir.Energi.Indonesia

Tuesday, November 26, 2013

e-KTP seumur hidup, negara bisa hemat Rp 4 triliun

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah mengetok dan mengesahkan Rancangan Undang-undang Administrasi Kependudukan (Adminduk) menjadi undang-undang. Alhasil, jika sebelumnya warga mengurus e-KTP dengan batas berlaku lima tahun, maka dengan disahkannya UU ini e-KTP dapat berlaku seumur hidup.

Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi , mengatakan, dengan masa berlaku e-KTP seumur hidup maka negara dapat menghemat sekitar Rp 4 triliun selama lima tahun.

"Ada Rp 4 triliun per lima tahun yang bisa kita hemat," ujar Gamawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (26/11).

Gamawan mengasumsikan pembuatan e-KTP sebesar Rp 16 ribu per pcs. Jika setiap lima tahun ganti dan di sisi lain pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 4 juta per tahun maka akan ketemu angka tersebut.

"Orang yang berulang tahun 17 tahun dan menikah itu kan berhak mendapatkan KTP, kita asumsikan setahun 4 juta," terang Gamawan.

Lebih lanjut, tambah Gamawan, pemerintah juga tidak melarang jika ada perubahan status atau identitas diri dalam seseorang. Misalnya pindah domisili ataupun penambahan gelar.

"Misalnya saya belum profesor terus minggu depan profesor, saya minta tolong perubahan status itu boleh. Saya pindah domisili ke Yogya misalnya," kata Gamawan.

Sedangkan terkait status agama, Gamawan memastikan tidak akan ada perlakuan diskriminasi terkait pengaturan soal pencantuman agama di dalam e-KTP tersebut. Dalam UU itu diatur pencantuman agama yang masih diberlakukan antara agama dan atau aliran kepercayaan yang diakui dan atau belum diakui pemerintah.

"Agama yang diakui enam ya, kalau di luar itu ya kosongkan saja. Tapi dia tetap dapat KTP, tidak menghalangi dia dapat KTP," tutupnya.

http://www.merdeka.com/peristiwa/e-ktp-seumur-hidup-negara-bisa-hemat-rp-4-triliun.html

Wednesday, June 26, 2013

Asap dari Indonesia Buat Klub Inggris Batal Main di Malaysia


Asap tebal yang menyelimuti Kuala Lumpur memaksa klub promosi Liga Primer Inggris Cardiff City membatalkan kehadiran skuat mereka ke Malaysia.

Cardiff sudah membuat jadwal bahwa Craig Bellamy, manajer Malky Mackay dan kapten tim Mark Hudson untuk berkunjung ke Malaysia, Kamis (27/6/13). Namun kondisi darurat di sejumlah negara bagian di Malaysia membuat kunjungan mereka dibatalkan.

Klub asal Wales ini merencanakan mengunjungi pembinaan Grassroots One Malaysia Cardiff City (1MCC) di sejumlah sekolah dan berjumpa dengan media Malaysia.
"Sungguh mengecewakan rencana mengunjungi Malaysia pada akhir pekan ini telah ditunda," ujar Tan Sri Vincent Tan seperti yang dikutip dari Dirty Tackle, Rabu (26/6/13).

"Agenda kegiatan sudah disusun sebagai bagian dari penyambutan bergulirnya Liga Primer demi meningkatkan perhatian terhadap Cardiff City di Malaysia," tambahnya.
Asap tebal yang menyelimuti Kuala Lumpur berasal dari kebakaran hutan yang terjadi di Pekanbaru, Indonesia. Hal itu berimbas kepada kualitas udara di Malaysia.
"Akibat kualitas udara yang buruk di Kuala Lumpur, diputuskan untu
k menunda perjalanan, menyusun ulang rencana ke depan ketika manajer dan para pemain bisa berinteraksi dengan publik Malaysia di bawah lingkungan yang nyaman," sesal penguasaha asal Malaysia itu.


SUMBER

Wednesday, June 19, 2013

Indonesia 'Ganggu' Singapura dengan Asap


Sejak awal pekan ini Singapura kembali diganggu kabut asap hasil kebakaran hutan dari Indonesia. Para pejabat Singapura gusar karena masalah ini setiap tahun terus terjadi di negeri mereka selama hampir 20 tahun terakhir. Penyebabnya diduga kuat lagi-lagi akibat pembakaran untuk membuka lahan baru perkebunan di sebagian Pulau Sumatra. 



Menurut stasiun televisi Channel News Asia, Indeks Standar Polusi udara (PSI) di Singapura pada Rabu sore waktu setempat, tepatnya pukul 15, sudah berada di level 172. Ini merupakan level tertinggi sejak negara-kota itu mengalami gangguan asap kebakaran terburuk pada September 1997, yang saat itu indeks PSI-nya mencapai 226. 




Pada Senin lalu, PSI masih sebesar 80. Apabila melebihi angka di atas 100, maka sudah dianggap tidak sehat.

Kantor berita Reuters mengabadikan reaksi dan situasi di Singapura yang kembali diganggu kabut asap kebakaran dari Indonesia

sumber

Wednesday, June 12, 2013

Daftar kota pemenang Piala Adipura 2013

Adipura adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Adipura diselenggarakan oleh Kementerian Negara Lingkungan Hidup.

Tahun ini penyerahan piala berdasarkan pada empat kategori wilayah penilaian. Yakni kategori Kota Metropolitan, Kota Besar, Kota Sedang dan Kota Kecil. Lebih kurang total keseluruhan penerima Piala Adipura 2013 mencapai 94 kota.

A. Kategori Kota Metropolitan,

1. Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan
2. Kota Jakarta Selatan, Provinsi DKI Jakarta
3. Kota Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta
4. Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur
5. Kota Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta
6. Kota Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta

B. Kategori Kota Besar:
1. Kota Pekanbaru, Provinsi Riau
2. Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau
3. Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat

C. Kategori Kota Sedang:
1. Kota Lumajang, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur
2. Kota Jombang, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur
3. Kota Buting, Provinsi Sulawesi Utara
4. Kota Metro, Provinsi Lampung
5. Kota Gresik, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur
6. Kota Tulungagung, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur
7. Kota Jepara, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah
8. Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur
9. Kota Carup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu
10. Kota Palopo, Provinsi Sulawesi Selatan
11. Kota Magelang, Provinsi Jawa Tengah
12. Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur
13. Kota Probolinggo, Provinsi Jawa Timur
14. Kota Cianjur, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat
15. Kota Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
16. Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara
17. Kota Payakumpuh, Provinsi Sulawesi Sumatera Barat
18. Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur
19. Kota Pematang Siantar, Provinsi Sumatera Utara
20. Kota Kediri, Provinsi Jawa Timur
21. Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Timur
22. Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat
23. Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara
24. Kota Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur
25. Kota Pare-Pare, Provinsi Sulawesi Selatan
26. Kota Bontang Provinsi Kalimantan Timur
27. Kota Watampone, Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan
28. Kota Singkawang, Provinsi Kalimantan Barat

D. Kategori Kota Kecil:
1. Kota Amlapura, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali
2. Kota Bangli, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali
3. Kota Gianyar, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali
4. Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Provinsi Sumatera Selatan
5. Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali
6. Kota Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan
7. Kota Badung, Kabupaten Badung, Provinsi Bali
8. Kota Tanjung Balai, Provinsi Sumatera Utara
9. Kota Pangkajene, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan
10. Kota Sibolga, Provinsi Sumatera Utara
11. Kota Kolaka, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara
12. Kota Semarapura, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali
13. Kota Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung
14. Kota Arga Makmur, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu
15. Kota Lamongan, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur
16. Kota Tabanan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali
17. Kota Selong, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat
18. Kota Solok, Provinsi Sumatera Barat
19. Kota Indramayu, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat
20. Kota Tuban, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur
21. Kota Magetan, Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur
22. Kota Banjarnegara, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
23. Kota Negara, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali
24. Kota Pati, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah
25. Kota Soe, Kabupaten Timor Timur Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur
26. Kota Sragen, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah
27. Kota Boyolali, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah
28. Kota Batu Sangkat, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat
29. Kota Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah
30. Kota Stabat, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara
31. Kota Sumenep, Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur
32. Kota Wlingi, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
33. Kota Bangil, Kabupaten Pasuruan, Provinsi Jawa Timur
34. Kota Majalengka, Kabupaten Bajalengka, Provinsi Jawa Barat
35. Kota Ngawi, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur
36. Kota Caruban, Kabupaten Madiun, Provinsi Jawa Timur
37. Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur
38. Kota Pangkalan Bun, Kabupaten Kobar, Provinsi Kalimantan Tengah
39. Kota Ciamis, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat
40. Kota Pacitan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Barat
41. Kota Sumbawa Besar, Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat
42. Kota Garut, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat
43. Kota Sawahlunto, Provinsi Sumatera Barat
44. Kota Sungai Liat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
45. Kota Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur
46. Kota Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi
47. Kota Trenggalek, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur
48. Kota Ponorogo, Pabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur
49. Kota Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur
50. Kota Kuningan, Kabupaten Kuningan, Provinsi Jawa Barat
51. Kota Karanganyar, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah
52. Kota Tidore, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara
53. Kota Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur
54. Kota Fak-Fak, Kabupaten Fak-Fak, Provinsi Papua Barat
55. Kota Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur
56. Kota Kepahiang, Kabupaten Kepahian, Provinsi Bengkulu
57. Kota Barru, Kabupaten Barru, Provinsi Sulawesi Selatan

sumber

Thursday, April 4, 2013

Pulau sampah di berbagai belahan dunia

Pulau merupakan sebuah tempat yang berupa daratan diatas perairan, yang memiliki luas lebih besar dari karang namun lebih kecil dari benua. Pulau ini memiliki beragam bentuk dan rupa dari mulai pulau yang dihuni jutaan penduduk seperti di Jawa dan pulau Sumatera, sampai dengan pulau tidak berpenghuni sama sekali akibat kesulitan akses untuk mengunjunginya. Namun saat ini kita akan membahas pulau dari segi fungsi dimana pulau-pulau dalam artikel ini memiliki fungsi sebagai penampung sampah, baik menampung sampah secara sengaja karena memang di fungsikan demikian oleh manusia hingga pulau sampah yang terbentuk begitu saja secara alami akibat perputaran arus laut sehingga sampah-sampah dilaut menjadi gunungan pulau. Sehingga pulau-pulau tersebut pun di namai sebagai pulau sampah.
Berikut beberapa pulau yang menempati fungsi sebagai pulau sampah berikut ini ;

-          Pulau Semakau, Singapura

Singapura merupakan sebuah negara pulau sehingga area untuk pembuangan sampah di negara ini sangat terbatas, akhirnya sebagai solusi pemerintah Singapura pun mengambil kebijakan untuk membuang sampah ke dalam sebuah pulau yang sudah ditata sedemikian rupa agar bisa menampung sampah. Pulau tersebut adalah Pulau Semakau yang terletak sekitar 8 kilometer ke arah selatan Singapura luasnya kurang lebih 3.5 kilometer persegi. Sebagai sebuah pulau, semakau merupakan pulau kecil yang dirancang oleh insinyur Singapura sebagai solusi untuk pengelolaan sampah. Dalam pulau tersebut terdapat 11 buah teluk yang akan di gunakan sebagai tempat pembuangan sampah, semuanya dilengkapi dengan  tanggul batu, plastik tebal dan tanah liat agar sampah yang dibuang tidak meluber kelaut.
Pulau ini mulai di pakai sejak tahun 1999, dari 11 teluk yang sudah di persiapkan sebagai sampah 4 teluk diantaranya sudah terpakai, teluk yang sudah terpakai kemudian ditutup oleh tanah dan ditanami berbagai rumput dan pepohonan diatasnya. Walaupun  untuk proses penghijaun ini menelan biaya yang sangat besar sekitar 400juta dollar, namun setidaknya bisa untuk menampung sampah sampai 63 juta meter kubik, jumlah seperti itu cukup untuk manmpung sampah dari Singapura sampai tahun 2040 nanti.

-          Yumenoshima, Jepang
Seperti halnya dengan Singapura, Jepang juga memanfaatkan pulau sebagai solusi atas sampah di negara mereka. Bedanya Jepang sudah mulai melakukan hal tersebut sejak dahulu tepatnya tahun 1960an, pulau tersebut bernama pulau Yumenoshima dan merupakan sebuah pulau buatan yang diciptakan sebagai solusi untuk sampah di negara Jepang. Namun sejak tahun 1972 pulau ini tidak di fungsikan lagi sebagai sebuah pulau tempat pembuangan sampah, agar tidak sia-sia pemerentah kemudian menyulap pulau sampah ini menjadi sebuah taman yang cantik dan unik dengan berbagai fasilitas di dalamnya. Sehingga siapapun yang berkunjung ke pulau ini tidak akan lagi menyangka bahwa pulau ini dahulunya merupakan pulau untuk membuang sampah.

-          Pulau Thilafushi, Maladewa
Thilafushi adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah barat Maladewa, Awalnya pulau ini hanyalah sebuah karang pada tahun 80’an lalu namun seiring berjalannya waktu karena tidak adanya tempat pembuangan limbah yang layak maka di gunakanlah Pulau Thilafushi sebagai tempat pembuangan limbah. Namun pengelolaan limbah di pulau ini benar-benar buruk dan pemerintah belum mendapatkan solusi untuk mengganti tempat pembuangan limbah di pulau ini, akibatnya setelah beberapa puluh tahun berlalu sampah benar-benar menggunung dan melebihi kapasitas maksimal pulau untuk menampung sampah. Keadaan itu diperparah oleh para pengelola hotel mewah yang tidak sabar untuk bergantian bongkar muat sampah didaratan pulau Thilafushi, mereka membuang sampah-sampah di laguna sehingga sampah pun menjadi semakin tidak teratur.
Sampah-sampah tersebut ada juga yang dibakar sehingga menyebabkan asap hitam membungbung tinggi ke angkasa, awan hitam yang tidak hanya awan biasa namun awan pekat menyengat hasil dari pembakaran sampah. Untuk antisipasi pada tahun 2011 lalu pemerintah Maladewa pernah melarang pembuangan sampah di pulau ini karena akan diadakan pembersihan laguna dari sampah secara besar-besaran.

-          Floating Garbage Island, Samudera Pasifik
Diantara semua pulau yang lain, Floating Garbage Island merupakan pulau yang paling terkenal diantara pulau lainnya. Hal ini terjadi karena pulau ini terbentuk bukan karena buatan manusia namun akibat dari bertumpuknya sampah yang terdapat dalam lautan akibat pusaran arus samudera pasifik. Pulau ini merupakan representasi rendahnya kesadaran manusia dan cermin dari kerusakan lingkungan di dunia, berbagai sampah yang di buang manusia ke laut berkumpul dalam satu titik sehingga membentuk sebuah pulau bernama Floating Garbage Island. Sampah yang terbentuk dan berkumpul pun mayoritas merupakan sampah plastik yang sangat sulit untuk di urai, sampah plastik yang sudah lama terombang-ambing dalam lautan kemudian terlihat seperti hancur namun sebenarnya tidak hancur benar namun berubah menjadi partikel-partikel kecil plastik yang tidak terurai.
Akibatnya bisa di tebak lingkungan di daerah ini rusak, ekosistem banyak yang terganggu, bahkan ditemukan beberapa burung dan ikan yang mati akibat mengkonsumsi limbah plastik yang hewan tersebut kira merupakan makanan hewan tersebut. Sebuah kenyataan yang miris dimana pulau yang memiliki luas 2x lebih besar wilayah negara bagian Texas ini terus bertambah besar setiap tahunnya.

http://www.oretz.com/pulau-sampah-di-berbagai-belahan-dunia.html

Wednesday, November 14, 2012

2028: Akhir Dunia?

"Tidak ada yang radikal tentang hal yang kita bicarakan," tutur jurnalis dan aktivis perubahan iklim Bill McKibben di hadapan 1.000 orang di University of California Los Angeles kemarin malam. "Orang yang radikal bekerja untuk perusahaan minyak."


Pernyataan seperti itu mungkin terdengar berlebihan bagi kebanyakan orang Amerika. Namun, siapa pun yang mengikuti penuh kuliah McKibben akan tahu dia tidak berlebihan.

McKibben berada di Los Angeles sebagai bagian dari tur nasionalnya, "Do the Math". Berdasarkan artikel terbarunya di Rolling Stone, ("Dengan Justin Bieber sebagai model sampulnya," canda McKibben) acara itu pada dasarnya adalah sebuah rangkaian kuliah yang didasarkan pada premis tunggal: perubahan iklim adalah matematika sederhana — dan hasil perhitungan tidak terlihat baik. Jika para pemimpin dunia tidak segera mengambil tindakan: "Planet ini akan hancur."

Matematika iklim, McKibben menjelaskan, bekerja seperti ini. Pemimpin dunia baru-baru ini mencapai suatu perjanjian internasional yang didasarkan pada pemahaman ilmiah bahwa kenaikan suhu global 2 derajat Celsius akan menimbulkan bencana bagi masa depan umat manusia.

Untuk mencapai temperatur global yang mengkhawatirkan itu, bumi melepaskan 565 gigaton karbon dioksida ke atmosfer. Inilah masalahnya: perusahaan bahan bakar fosil saat ini memiliki 2.795 gigaton karbon dioksida dalam cadangan bahan bakar mereka — dan bisnis mereka tergantung pada bahan bakar yang dipasarkan dan digunakan. Pada tingkat konsumsi saat ini, dunia akan melewati ambang batas 565 gigaton dalam waktu 16 tahun.

Untuk mencegah kiamat, industri yang paling menguntungkan dalam sejarah umat manusia justru perlu ditutup.

"Malam ini," kata McKibben, "kita akan mencecar industri bahan bakar fosil."

Bukan hal yang mudah. Industri minyak memberikan keuntungan tahunan sebesar $137 miliar (sekitar Rp1,3 kuadriliun) dan kekuasaan politik. McKibben mencatat, "perusahaan minyak patuh hukum karena mereka bisa mendikte hukum."

Namun, ada beberapa angka yang menguntungkan McKibben. Jajak pendapat terbaru menunjukkan 74 persen orang Amerika sekarang percaya pada perubahan iklim, dan 68 persen menganggap itu sebagai sesuatu yang berbahaya. Masalah yang dihadapi aktivis lingkungan adalah bagaimana menerjemahkan angka-angka itu menjadi tindakan nyata.

Munculah  "Do the Math."

Menggunakan popularitas McKibben sebagai seorang penulis, kegiatan kuliah diubah menjadi mesin politik. Sebelum mengadakan kuliah umum, Do the Math dengan cerdas bekerja sama dengan kelompok-kelompok lingkungan setempat. Sebelum perkuliahan McKibben dimulai, kelompok-kelompok ini diperbolehkan naik ke atas panggung dan berbicara tentang isu-isu setempat yang perlu diperjuangkan.

Informasi kontak dikumpulkan untuk menjaga penonton selalu mengetahui upaya terbaru tentang isu-isu tersebut. Para penonton ternyata tidak hanya menjadi pendengar kuliah McKibben, mereka tiba-tiba menjadi bagian dari gerakan lokal lingkungan mereka.

Ini adalah strategi cerdas, dan penting — karena masalah perubahan iklim hampir secara eksklusif bersifat politis. Antara energi yang dapat diperbaharui dan teknik yang lebih efisien, teknologi sudah ada untuk mencegah bencana pemanasan global.

Meskipun penerapannya di Amerika Serikat masih tertinggal, teknologi itu sedang digunakan dalam skala massal di negara-negara lain. Di Cina dengan populasi miliaran dan kesenjangan kekayaan yang luar biasa, 25 persen negara itu masih menggunakan panel surya untuk memanaskan air. Jerman — negara dengan perekonomian kuat di Eropa — selama hampir satu dekade, berhasil mendapatkan setengah energi dari sumber yang berkelanjutan.

Hal yang sama bisa terjadi di Amerika asalkan negara itu memiliki kemauan untuk mewujudkannya. Menurut McKibben, kunci untuk mewujudkan tujuan itu adalah dengan memerangi industri bahan bakar fosil dari akarnya.

Untuk memulainya, dia menyerukan pembebasan global dari perusahaan bahan bakar fosil. "Kami meminta orang-orang yang percaya pada masalah perubahan iklim untuk menghentikan mencari nafkah dari itu. Sama seperti dengan gerakan pembebasan apartheid di Afrika Selatan, kita harus mengeliminasi perusahaan minyak yang dianggap terhormat. "

Melanjutkan aksi protes terhadap proyek-proyek energi yang tidak berkelanjutan juga akan sangat penting. McKibben akan berada di Washington, D.C. pada 18 November untuk memimpin unjuk rasa menentang perubahan iklim dan Keystone Pipeline. "Kita tidak bisa lagi hanya berasumsi bahwa Presiden Obama akan melakukan segala yang dijanjikannya selama kampanye. Kita perlu mendorongnya. "

"Saya tidak tahu apakah kita akan menang. Namun, saya tahu kita akan berjuang.”

http://id.berita.yahoo.com/2028-akhir-dunia.html

Thursday, November 8, 2012

Fakta Mencengangkan Tentang Sampah Elektronik

Tahu kah kamu, ternyata E-Waste atau sampah elektronik menyumbang global warming dan pencemaran lingkungan yang besar bagi kehidupan. Hal dini disebabkan E-Waste mengandung bahan beracun dan termasuk pada limbah B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya).



sumber: hijauku.com
Seperti yang kita ketahui bersama, saat ini teknologi begitu canggih, produksi elektronik di seluruh negara tak terkecuali Indonesia berlomba-lomba memikat konsumen dengan fitur canggih, namun harga terjangkau dalam waktu yang berdekatan. Seperti halnya gadget yang sedang marak dan jadi gaya hidup kebanyakan kita.
Terbayangkan, dikemanakan barang-barang elektronik sebelumnya? Fenomena cepatnya produksi teknologi baru tentu akan menggeser teknologi sebelumnya yang belum tentu dipakai kembali. Hal ini bakal jadi hal yang cukup menakutkan mengingat barang elektronik memiliki efek yang berbahaya karena elemen-elemennya yang terbuat dari jenis logam.
 
 

Berikut fakta-fakta mengenai sampah elektronik yang mungkin belum kita ketahui:

  • Di Amerika hingga sekarang produksi mencapai 300 juta hingga 400 jutabarang elektronik pertahun.
  • Di Indonesia sendiri berdasarkan data BPS tahuin 2012, produksi elektronik dalam negeri untuk 2 (dua) jenis saja yaitu televisi dan komputer, jumlahnya cukup mencengangkan. Indonesia mampu memproduksi televisi sebanyak 12.500.000 kg/tahun. Jumlah televisi impor; 6.687.082 kg/tahun.
  • Dari jumlah tersebut, televisi berpotensi menghasilkan e-waste sebanyak 12.491.899.469 kg/tahun. Sementara untuk komputer, Indonesia mampu memproduksi 12.491.899.469 kg/tahun, dengan jumlah impor 35.344.733 kg/tahun. Dan potensi e-waste yang dihasilkan mencapai 36.020.493.768 kg/tahun. Padahal komposisi dalam sebuah komputer banyak mengandung silica/glass, palstik, ferrous metal dan lain-lain.
  • Di Afrika Selatan dan China, diprediksi akan terjadi lonjakan e-waste hingga 200 – 400 persen pada tahun 2020.
  • Menurut data dari UNEP (Program Lingkungan Hidup PBB) secara global e-waste tumbuh 40 juta ton setiap tahunnya. Sampah ponsel dan komputer personal sebagai penyumbang terbesar. Limbah emas dan perak 3%, palladium 13% dan kobalt 15%, setiap tahunnya.
  • 2% sampah elektronik akan sama saja dengan 70% limbah beracun yang ada di tempat pembuangan sampah. Jumlah ekstrim dari  timbal dalam elektronik mampu menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat, perifer, darah dan ginjal.
  • Karena pesatnya produksi elektronik terutama komputer, hanya sekitar 15% yang mendaur ulang komputer mereka dan berarti 85% berada di tempat sampah.
  • Sekitar 50 juta ponsel yang diganti dalam waktu satu bulan di seluruh dunia. Hanya sekitar 10% yang mendaur ulangnya. Andai saja 1 juta ponsel di daur ulang maka akan mengurangi gas emsisi sebanyak gas yang dihasilkan 1.358 mobil selama setahun.
  • Monitor LCD atau notebook banyak yang mengandung sedikit merkuri.
  • Tabung sinar katoda pada TV dan komputer berisi 4-7 lbs timah
  • Sekitar 80% limbah dari AS dikirim ke Asia
  • Secara rerata, volume e-waste terus mengalami peningkatan 3 – 5 % per tahun. Jumlah ini tiga kali lebih cepat dibandingkan dengan limbah jenis lain. Saat ini saja, 5% limbah padat yang dihasilkan dunia adalah e-waste. Jumlah ini hanya bisa disaingi oleh jumlah limbah kantung plastik
Lalu, bagaimana solusinya?
  • Di Indonesia, penanganan limbah B3 diatur dalam beberapa peraturan antara lain; Kerpres 61/1993 tentang Ratifikasi Konvensi Basel, Perpres 47/2005 tentang Ratifikasi Ban Ammendement, UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, PP Nomor 18/1999 jo PP Nomor 85/1999 tentang Pengelolaan Limbah B3, UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
  • Dua lembaga internasional yaitu International Telecommunication Union (ITU) dan Secretariat of the Basel Convention (SBC) mendatangani kerja sama untuk memromosikan pengelolaan sampah-sampah elektronik, termasuk pengumpulan dan proses daur ulang bahan-bahan berbahaya di dalamnya.
  • Pada Intinya semua negara setuju untuk mengurangi sampah elektronik dengan proses daur ulang dan menerapkan praktik serta standar ramah lingkungan.
sumber:
ylki.or.id
dosomething.org
hijauku.com

Inilah Beberapa Perkampungan Indah di Bantaran Sungai


Sungai pada umumnya merupakan suatu media bagi aktivitas transportasi dan kegiatan ekonomi. Namun hal itu hanya bisa terjadi apabila sungai tersebut bersih. Suatu hal yang merupakan keniscayaan di Indonesia.

Inilah perkampungan-perkampungan Indah yang berada di bantaran sungai dari berbagai penjuru dunia:

1. Kampung Klong Damnoen Saduak, Thailand





Perkampungan ini terletak di kanal Klong (klong = kanal) Damnoen Saduak, di Provinsi Ratchaburi, Thailand. Di kanal ini, bangunan-bangunan menghadap ke sungai sempit dan kanalnya difungsikan sebagai pasar apung.

Tempat ini bisa dicapai dari Bangkok melalui Klong Saen Saeb. Walaupun ada aktivitas pasar apung di kanal ini tapi di sungainya tidak ada sampah sehingga para warga bisa leluasa beraktivitas.

2. Kampung Nelayan di Sungai Hoi An



Desa nelayan ini terletak di sepanjang sungai di Hoi An yang pelabuhan internasional sejak abad ke-16. Namun kini pusat kegiatan perkapalan sudah dipindahkan ke kota Da Nang.

Bangunan-bangunan di pinggir sungai berarsitektur kuno dan bergaya China. Lampion-lampion warna-warni tampak indah menghiasi bangunan itu yang sepanjang bantarannya bersih. Kawasan ini sering disebut sebagai “Venesia-nya Vietnam”

3. Kampung Kanal Suzhou, China


Perkampungan di kanan-kiri Kanal Suzhou yang merupakan anak Sungai Yangtze di bagian timur China.

Kampung ini sudah berdiri sejak abad ke-5 SM, memiliki taman-taman dan jembatan-jembatan batu. Kanal ini dulu merupakan jalur perdagangan sutra.

4. Brugge, Belgia


Dahulu kanal ini merupakan jaringan penting bagi para pedagang untuk membawa barang dagangannya menuju pasar di Water Halls.

Kini, perkampungan dan bangunan di kanan-kiri kanal ini masih awet dan terpelihara. Pemandangannya yang indah menjadi daya tarik bagi wisatawan.

5. Kampung Kali Code, Yogyakarta



Indonesia memiliki kampung di pinggiran Kali Code, Yogyakarta. Kampung pinggir kali yang dulunya kumuh, namun karena sentuhan sastrawan sekaligus rohaniawan dan budayawan, YB Mangunwijaya alias Romo Mangun, Kali Code ini menjadi tertata rapi dan bersih.

Bahkan rancangan pemukim-an Romo Mangun di tepi Kali Code ini menerima penghargaan bidang arsitektur Aga Khan Award. Karena berhasil menata perumahan warga miskin yang kumuh di pinggiran Kali Code, maka beliau dinobatkan menjadi salah satu arsitek terbaik di Indonesia.

SUMBER

Tuesday, October 30, 2012

Bioskop Bertenaga Surya Termini Di Dunia


Zaman sekarang, hal-hal berbau ramah lingkungan dan go green semakin berkembang, karena itulah Sol Cinema mengikuti trend terbaru ini.
Dibuat oleh seniman Peter O”Connor dengan bantuan beberapa rekannya dari seniman Inggris, di sebuah trailer perjalanan dari tahun 1960-an. Sol Cinema sepenuhnya didukung oleh tenaga matahari, menggunakan panel surya 120W yang dihubungkan ke empat baterai besar lithium-ion, menyediakan energi yang cukup untuk proyektor LED ada alat-alat elektronik di dalamnya.
Tetapi dukungan tenaga surya bukan hanya keunikan dari Sol Cinema, dibangun di dalam sebuah trailer menjadikan tempat ini tetaer bertenaga surya terkecil di dunia . Percaya atau tidak, trailer ini mampu menampung hingga delapan pengunjung.
Bioskop ini lebih difokuskan untuk menampilkan film-film bertema lingkungan atau dokumenter. Setelah kesuksesannya di daerah, Sol Cinema sedang mempersiapkan tur keliling Eropa.

[imagetag]

[imagetag]

[imagetag]

Sumber

Wednesday, October 17, 2012

25 Primata Terancam Punah di Dunia, 3 dari Indonesia

Daftar ini dikeluarkan oleh koalisi grup konservasi dalam Convention on Biological Diversity PBB di Hyderabad, India, Senin (15/10).

Tiga spesies primata dari Indonesia: tarsius gunung (Tarsius pumilus), Kukang jawa (Nycticebus javanicus), dan monyet simakobu atau biasa disebut monyet ekor babi (Nasalis concolor), masuk dalam daftar "25 Primata Paling Terancam Punah 2012 - 2014."
Daftar ini dikeluarkan oleh koalisi grup konservasi dalam Convention on Biological Diversity PBB di Hyderabad, India, Senin (15/10). Asal primata yang paling mencolok berasal dari tiga negara, termasuk Indonesia, yang memiliki primata terancam punah lebih dari dua spesies.

Ketiga negara itu antara lain Madagaskar (enam spesies), Vietnam (lima spesies), dan Indonesia (tiga spesies). Dikatakan para peneliti yang terlibat dalam penyusunan daftar tersebut, kebanyakan spesies monyet di Asia terancam karena banyak hal.

Bukan hanya karena perburuan dan kehilangan habitat. Tapi juga perburuan anggota tubuh untuk memuaskan permintaan (pasar) masyarakat Asia untuk masakan eksotis, obat-obatan, dan zat perangsang.
Tarsius gunung (Tarsius pumilus) dari Sulawesi, diperkirakan punah sejak tahun 2000. "Hanya ada empat individual yang pernah tercatat oleh peneliti," ujar Christoph Schwitzer, Kepala Penelitian dari Bristol Conservation and Science Foundation (BCSF).
kukang jawa,primataKukang Jawa (Nycticebus javanicus) (Reynold Sumayku/NGI)
Kukang jawa (Nycticebus javanicus), masuk kategori terancam punah karena sering diburu untuk peliharaan. Spesies ini juga pernah masuk dalam daftar spesies terancam punah di tahun 2008 - 2010.
Kisah kukang secara mendalam pernah diangkat dalam National Geographic Indonesia edisi Desember 2011. Feature berjudul "Bagai Kukang dalam Sangkar" mengupas bagaimana morfologi kukang yang lucu dan menggemaskan malah jadi hal utama yang membuatnya diburu manusia untuk dijadikan peliharaan.

Lain lagi dengan monyet simakobu atau biasa disebut monyet ekor babi (Nasalis concolor). Sama seperti primata lain, ancaman utama untuk monyet simakobu adalah kehilangan habitat akibat pembukaan lahan di hutan dan perburuan untuk dijadikan peliharaan.
"Primata adalah saudara terdekat kita dan kemungkinan spesies terbaik untuk hutan hujan kita. Penting juga dicatat jika primata adalah spesies kunci dari rumah hutan tropis," kata Russell Mittermeier, President of Conservation International.

Spesies teratas dalam daftar "25 Primata Paling Terancam Punah 2012 - 2014" adalah lemur yang berasal dari Madagaskar.
(Zika Zakiya. Sumber: IUCN, Mongabay)

Wednesday, September 19, 2012

5 dari 6 Suku Biota Perairan Ini Ada di Indonesia

 
Perairan Indonesia terkenal dengan keanekaragaman biota yang tinggi, salah satunya banyaknya keanekaragaman kelomang. Kelomang dikenal dengan nama umang-umang atau pong-pongan (hermit crab). Biasanya hewan ini hidup di sebuah cangkang keong atau benda yang berongga.

Dalam sistematika hewan, kelomang merupakan bagian dari infraordo anomura, yaitu hewan yang memiliki bentuk tubuh bagian belakang (abdomen) tidak simetris dan beragam. Mulai dari bentuk abdomen yang memanjang menyerupai udang, sampai bentuk menyerupai kepiting.

Infraordo tersebut terdiri atas 7 supersuku, 17 suku, 264 marga dan 2740 jenis. Dari infraordo ini kelomang menguasai 54 persen dari jumlah marga dan 43 persen dari jenis yang ada di dalam Anomura. Sementara kelomang dibagi dalam 6 suku.

Peneliti LIPI yang juga ahli taksonomi kelomang, Dwi Listyo Rahayu, mengatakan di perairan laut Indonesia telah ditemukan 5 suku dari 6 suku kelomang yang ada di seluruh perairan laut dunia. Ia menambahkan, meski di Indonesia telah ditemukan 202 jenis kelomang, angka ini hanya sepertiga dari jumlah jenis yang ditemukan di perairan Indo Pasifik Barat (Indo West Pasific).

"Beberapa marga dan jenis sampai saat ini masih merupakan biota endemik Indonesia," katanya dalam orasi pengukuhan profesor riset di Kantor LIPI, Jakarta.

Meski penemuan sudah mencapai 202 jenis kelomang, menurutnya angka tersebut masih tergolong sedikit bila mengingat tingginya keanekaragaman biota di Indonesia.

"Sedikitnya jenis yang ditemukan di Indonesia dikarenakan kurangnya eksplorasi di berbagai habitat dan ekosistem," tambah doktor jebolan Science de la Vie, Universite Pieree & Marie Curie, Paris VI.Paris, Prancis.

Ia juga memandang penelitian taksonomi kelomang perlu ditingkatkan di samping penelitian ekologi dan tingkah lagu kelomang. Karena manfaat penelitian taksonomi bisa menguraikan fungsi suatu biota di ekosistem.

Kelomang berfungsi sebagai indikator pencemaran daerah pantai, indikator keberadaan keong, juga sebagai rantai makanan di laut dengan memakan, yaitu sebagai makanan bagi ikan kakatua, kepiting perenang dan gurita. Kelomang juga berfungsi membantu membersihkan lingkungan laut dari biota mati dengan cara menghancurkan hewan atau tanaman yang membusuk.
 




Saturday, September 8, 2012

Pandangan Alfred Russel Wallace Tentang Sulawesi Yang Mempesona


Inilah Sulawesi yang melegenda, yang memikat Alfred Russel Wallace saat menjelajah pulau ini pada tahun 1856, 1857, dan 1859. Ilmuwan alam dari Inggris itu begitu terpesona, sekaligus kebingungan, saat melihat banyaknya spesies endemis di pulau ini yang tak ditemui di belahan Bumi lainnya, bahkan di kepulauan lain di Nusantara yang berdekatan dengan Sulawesi.

Sebagian besar orang di Indonesia barangkali masih asing dengan Wallace dan lebih mengenal Charles Darwin sebagai penemu teori evolusi yang dipicu seleksi alam. Padahal, Wallace lebih dulu merumuskan teori seleksi alam, atau setidaknya berbarengan dengan seniornya, Darwin. Keduanya merumuskan teori ini setelah mengamati keberagaman sekaligus kekhasan flora serta fauna saat menjelajah dunia. Darwin meneliti di Galapagos dan Wallace di Nusantara.

Kepulauan Galapagos terletak di bagian timur Samudra Pasifik, 970 kilometer dari Amerika Selatan. Jaraknya sekitar 19.000 kilometer dari Indonesia dan membutuhkan waktu tempuh hampir 25 jam menggunakan penerbangan zaman ini. Terasing di lautan, Galapagos telah dikolonisasi oleh spesies dari daratan sejak jutaan tahun lampau, menciptakan berbagai jenis spesies yang khas. Darwin adalah geolog pertama yang mengunjungi Galapagos tahun 1835. Pada akhirnya, dia justru mendalami keunikan satwa Galapagos.

Seperti Darwin, Wallace sangat terpukau dengan satwa endemis yang ditemuinya di Sulawesi. Sesaat setelah kepulangannya dari Manado, Sulawesi Utara, Februari 1858, Wallace tergeletak di kamar tidurnya di Ternate, Maluku Utara. Ia terserang demam, kemungkinan karena malaria. Dari kamar itulah dia menulis surat kepada Darwin yang dihormatinya. Wallace melampirkan makalah pendek di surat itu, yang diberinya judul ”On the Tendency of Varieties to Depart Indefinitely from the Original Type”.

Makalah yang ditulis tangan dengan tergesa-gesa selama dua malam itu merangkum lebih dari sepuluh tahun penelitian. Wallace menggabungkan berbagai petunjuk dari penyebaran satwa di bentang alam yang beragam dengan fenomena keragaman di dalam spesies itu sendiri. ”... mengapa ada spesies yang mati dan sebagian sanggup bertahan?” gugat Wallace.


Jawabannya, menurut Wallace, bahwa di antara sesama satwa liar itu mereka bersaing untuk bertahan hidup. Hanya varian yang paling cocok dengan keadaan lingkunganlah yang sanggup bertahan.

Makalah yang dikirim Wallace memberi jawaban bagi Darwin tentang fenomena seleksi alam yang hingga tahun itu belum dirumuskannya: the fittest would survive (individu inferior akan mati dan individu superior akan bertahan).

Lebih lanjut, ”persaingan untuk bertahan hidup” ini pasti menghasilkan perubahan arah yang adaptif dalam spesies itu. Perubahan kondisi fisik itu mungkin akan mengaburkan, bahkan menyebabkan kepunahan, ras lama dan membentuk ras baru yang lebih unggul.

”Kijang dengan kaki lebih pendek atau lebih lemah tentu akan lebih mudah diserang harimau,” kata Wallace. Karena itu, kijang yang mampu bertahan hidup adalah yang memiliki kaki yang kuat. Dengan proses yang sama, hal ini menjawab mengapa jerapah berleher panjang; karena yang berleher pendek tidak sukses mewariskan keturunan yang sanggup bertahan hidup.

Tulisan Wallace itu ditutup dengan sebuah kesimpulan yang menggedor Darwin, yaitu bahwa ada kecenderungan di alam untuk terus mengembangkan tipe tertentu yang semakin jauh dari aslinya—perkembangan yang tampaknya tidak terbatas.

Surat dan makalah Wallace dari Ternate menjadi tonggak penting bagi Darwin. Ia segera teringat dengan makalah yang ditulisnya pada 1842-1844, tetapi belum diterbitkan. Darwin kemudian mengirim makalahnya dan makalah Wallace ke sahabatnya, Charles Lyell.

Wallace masih di Papua, terjebak hujan, didera kelaparan dan demam, pada Juli 1858 saat makalahnya bersama tulisan Darwin—yang belum pernah diterbitkan—ditulis ulang dan dibacakan di hadapan Linnean Society. Makalah itu diberi judul On the Tendency of Species to Form Varieties; and on the Perpetuation of Varieties and Species by Means of Selection dan disebutkan ditulis oleh Charles Darwin, Alfred Wallace; dikomunikasikan oleh Sir Charles Lyell dan Joseph Hooker, anggota Linnean Society. Wallace sama sekali tidak dimintai pendapat soal penggabungan tulisan itu.

Pada 1859, saat Wallace masih menjelajah hutan di Nusantara, Darwin menerbitkan bukunya, Origin of Species. Buku berisi uraian lebih rinci tentang proses seleksi alam yang memicu evolusi itu kian memopulerkan Darwin sebagai ”Bapak Evolusi”, sementara Wallace cenderung dilupakan. Belakangan, dunia pengetahuan mendudukkan kembali posisi Wallace sebagai penemu teori evolusi bersama dengan Darwin. Sebelumnya, hanya Darwin yang menikmati popularitas sebagai penemu teori evolusi.

Pada waktu bersamaan, Wallace juga mengirim makalah untuk diterbitkan di Linnean Society berjudul On the Zoological Geography of the Malay Archipelago (1859). Dalam makalahnya, ia menuliskan bahwa Nusantara terbagi menjadi dua wilayah penyebaran fauna, satu di timur, dan lainnya di barat. Jika ditarik garis melalui Selat Makassar dan Selat Lombok, maka di sebelah barat garis itu akan kita temukan satwa khas Asia; di sebelah timur akan didapati satwa khas Australia. Padahal, kedua wilayah ini memiliki kondisi iklim dan habitat yang mirip. Delapan tahun kemudian, ahli anatomi, Thomas H Huxley, menyebut batas demarkasi penyebaran fauna di Nusantara ini sebagai garis Wallace.

Namun, Wallace tidak puas dengan kesimpulannya soal Sulawesi. Hal itu terus menghantui hingga menjelang akhir hayatnya. Dalam tulisan-tulisannya yang diterbitkan tahun 1859 dan 1863-1876, dia menempatkan Sulawesi di bagian timur garis Wallace. Namun, dalam bukunya The World of Life yang diterbitkan tahun 1910 atau tiga tahun sebelum kematiannya, Wallace merevisi posisi Sulawesi menjadi kelompok pulau-pulau di barat garis itu.

Posisi Sulawesi secara khusus dibicarakannya dalam buku Island Life sebagai ”Anomalous Island” atau Pulau Anomali. ”Fauna Sulawesi sangat berbeda dengan dua bagian Nusantara sehingga sangat sulit memutuskan di mana posisi pulau ini,” tulis Wallace.

Terletak tepat di tengah-tengah hamparan kepulauan Nusantara dan dikepung dari berbagai sisi oleh pulau-pulau dengan ragam kehidupan bervariasi, karakteristik fauna Sulawesi menunjukkan sejumlah ciri khas yang mengejutkan. Posisi Sulawesi harusnya membuat pulau ini kaya fauna yang bermigrasi dari segala penjuru, lebih dari yang bisa diterima Jawa.

Di Sulawesi memang ada sebagian satwa yang memiliki ciri Australia dan Asia. Hal itu yang membuat Wallace berpikir bahwa sebagian Sulawesi kelihatannya pernah bersatu dengan Asia dan sebagian lagi pernah bersatu dengan Australia.

Namun, kenyataannya hanya ada sedikit spesies fauna pendatang di Sulawesi dibandingkan dengan pulau lain di Nusantara. Misalnya, jumlah mamalia dan burung di Sulawesi kurang dari separuh di Pulau Jawa. Padahal, Sulawesi jauh lebih luas dibandingkan dengan Jawa.

Sebaliknya, fauna khas Sulawesi justru sangat berlimpah. ”Sulawesi memiliki jumlah spesies endemis yang mengagumkan,” tulis Wallace.

Pengamatan Wallace soal kekhasan satwa Sulawesi lebih banyak didasarkan pada pengamatannya terhadap burung. Dia mencatat, dari 128 burung yang ditemukannya di Sulawesi, 80 spesies di antaranya adalah endemis. Di antara burung endemis itu, terdapat beberapa keanehan struktur yang mengejutkan dan tidak memiliki kerabat dekat dengan spesies di pulau-pulau sekitarnya. ”Spesies itu cukup terisolasi, mengindikasikan ada hubungan dengan tempat-tempat yang jauh letaknya, seperti Papua, Australia, India, atau Afrika,” ungkap Wallace.

Selain itu, Wallace juga banyak meneliti keragaman kupu-kupu Sulawesi. Dia mendata, dari 48 spesies kupu-kupu yang ditemukan di Sulawesi, 35 jenis di antaranya adalah endemis. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Jawa yang hanya memiliki 23 spesies endemis dari 70 kupu-kupu yang ditemukan di sana.

Wallace tidak membuat data rinci mamalia endemis. Namun, dia menyebutkan beberapa satwa Sulawesi yang menurut dia ajaib, di antaranya adalah babirusa, anoa, dan monyet hitam (yaki).

Penelitian terbaru tentang satwa endemis Sulawesi yang dirangkum Anthony J Whitten, Muslimin Mustafa, dan Gregory S Henderson dalam buku The Ecology of Sulawesi (1987) menyebutkan, dari 127 jenis mamalia Sulawesi, 79 di antaranya (62 persen) merupakan spesies endemis. Persentase ini bisa meningkat hingga 98 persen apabila kelelawar dimasukkan dalam penghitungan. Jumlah mamalia endemis Sulawesi merupakan yang tertinggi di Indonesia, disusul Papua (58 persen), Kalimantan (18 persen), dan Maluku (17 persen).

Pulau seluas 174.600 kilometer persegi itu juga menjadi daerah burung dan reptil endemis terbanyak nomor dua di Indonesia setelah Papua. Dari 328 jenis burung di Sulawesi, 88 spesies (27 persen) di antaranya adalah endemis. Dari 104 jenis reptilia, 29 jenis (27 persen) adalah endemis Sulawesi.

Anomali Sulawesi membuat Wallace mencari jawabannya pada proses geologi yang membentuk pulau ini. ”Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan penyelidikan geologi yang mendalam,” kata Wallace. Dia menduga keunikan satwa Sulawesi terkait dengan perubahan permukaan Bumi pada masa lalu, konsep yang waktu itu terdengar aneh, tetapi belakangan terbukti betul.

http://sains.kompas.com/read/2012/09/07/16032710/Inilah.Sulawesi.yang.Memikat.Wallace