Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Tuesday, October 6, 2015

11 Fakta Menarik Mengenai Film Animasi Adit & Sopo Jarwo

ada 11 fakta yang tidak pernah diberitakan kepublik mengenai animasi Adit & Sopo Jarwo. Apa saja itu? Mari kita simak satu persatu.

1. Judul Aslinya Adalah Adit & Sopo Jarwo





Animasi produksi MD Animation ini sebenarnya berjudul Adit & Sopo Jarwo. Namun, masyarakat Indonesia sering menyebutnya dengan Adit - Sopo Jarwo tanpa kata "dan" diantara dua kata tersebut. Hal ini sebagaimana juga terjadi pada animasi berjudul Upin & Ipin, terkadang masyarakat sering menyebutnya dengan Upin - Ipin saja, tanpa menyebut kata "dan" diantara dua kata tersebut.

2. Nama Adit Dipilih Supaya Mudah Diingat




Dari sekian ribu nama yang ada di Indonesia, "Adit" dipilih sebagai salah satu nama tokoh dalam animasi ini. Menurut tim kreatif animasi adit & sopo jarwo. Nama adit dipilih karena sudah umum dan mudah diingat, harapannya agar animasi ini juga senantiasa melekat dihati dan fikiran masyarakat Indonesia.

3. Tokoh Sopo Jarwo Merupakan Kritikan Terhadap Bangsa Indonesia




Sopo Jarwo diambil dari bahasa jawa yang berarti siapa sih jarwo? 
Ini merupakan pertanyaan yang sebenarnya berisi kritikan buat bangsa Indonesia. Jarwo adalah sosok yang berbadan besar, cerdik, dan dapat melakukan apapun. Ia bisa menari, membetulkan genteng, memasak, hingga mencuci pakaian. Tapi anehnya, hidupnya begitu-begitu saja, tidak ada kemajuan. Dari hari kehari, kerjaannya hanya berkendara dengan menggunakan motor butut bersama temannya yang gemuk. Sehingga menimbulkan pertanyaan, siapa sih sebenarnya si Jarwo ini?

Ini adalah analogi keadaan bangsa indonesia saat ini. Kita mampu melakukan apapun. Tapi terkadang kita malas dan tidak mau bekerja keras. Sehingga kita menjadi bangsa yang lemah dan jauh tertinggal jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain diseluruh dunia.

4. Dalam Satu Bulan, Serial Animasi Ini Diputar Ulang Sebanyak 60 kali

Tahukah anda?
Jika dalam satu bulan, MD Animation hanya mampu memproduksi 1-2 episode saja, sementara untuk satu episode durasinya tak lebih dari 7 menit.

Disisi lain, permintaan pasar dalam sebulan, animasi ini harus ditayangkan sebanyak 60 kali. Untuk mengakali itu, pihak produser melakukan penayangan ulang episode atau seri sebanyak 30 - 60 kali dalam sebulan. Untuk mencegah kebosanan para penonton, animasi ini diputar secara acak, misalnya ada episode bulan kemarin diputar kembali pada bulan ini. Selain itu, setiap 3 minggu sekali ada satu episode baru yang diputar.


5. Dalam Pembuatannya Membutuhkan Animator Sebanyak 186 Orang

Tahukah anda?
Untuk mengerjakan animasi satu episode berdurasi 7 menit, membutuhkan animator sebanyak 186 orang. 


6. Ada Tokoh Yang Tidak Diketahui Namanya

Ada yang tahu siapa nama tokoh karakter animasi ini?





Sebagian netizen ada yang berpendapat bahwa tokoh ini bernama Bang Sopo, ada juga yang menjawab adiknya jarwo. MD animation bahkan secara resmi belum dapat menjelaskan siapa sebenarnya nama tokoh karakter animasi yang satu ini.

7. Waktu Pengerjaan Yang Super Lama

Meskipun animasi ini dikerjakan oleh 186 orang, bukan berarti waktu pengerjaannya bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Untuk satu episode berdurasi 7 menit saja misalnya, membutuhkan waktu pengerjaan selama lebih dari 90 jam. Hal itu karena animasi ini dikerjakan secara manual, mulai dari menggerakkan model 3D hingga penambahan efek. Bagian tubuh objek 3d digerakkan secara satu persatu dengan sangat teliti, tentu saja ini membutuhkan ketekunan yang super tinggi.

8. Ada Sekolah Animasinya

Untuk menambah sumber daya manusia dalam memproduksi animasi ini. MD Animation membuat "sekolah" berbentuk training animasi, pesertanya adalah siswa SMK yang berasal dari seluruh nusantara. Untuk menjadi siswa di sekolah animasi ini, calon siswa harus menguasai software animasi Blender dan harus memiliki portofolio atau karya berbentuk animasi. Jika lulus, maka para siswa akan dilatih selama 3 bulan, setelah itu mereka sudah langsung bisa bekerja sebagai animator di MD Animation.

9. Menggunakan Software Gratis

Untuk menghemat biaya produksi, animasi ini dibuat dengan menggunakan software gratis, Blender. Software ini 100 % gratis dan tidak membutuhkan lisensi. Dengan demikian, biaya produksi akan menjadi lebih murah.

10. Sepeda Motor Jarwo Tidak Pernah Diisi Bensin



Ada yang aneh dengan film ini, selama penayangannya sepeda motor butut jarwo tidak pernah diisi bensin. Dan anehnya lagi, ukuran sepeda motor lebih kecil dari ukuran tubuh jarwo. Gimana gak mogok?

11. Bang Haji Penanda Ending



Ada satu karakter yang unik difilm animasi ini. Deddy Mizwar? Bukan... Dia disebut Bang Haji. Karakter ini selalu muncul di akhir film untuk menasehati jarwo. Anehnya, bang haji sudah tahu permasalahan sebelum dijelaskan. Kalau bang haji sudah muncul pasti itu pertandanya film adit & sopo jarwo akan segera berakhir..

http://www.yudyapratidina.com/2015/03/11-fakta-yang-kamu-tidak-tahu-mengenai.html

Friday, August 14, 2015

Siapa sebenarnya ibu dan bapak dari Masha?


Serial kartun Masha and The Bear mencuri perhatian masyarakat Indonesia. Mulai anak-anak, remaja, hingga orangtua menyukai kartun dengan pemeran utama seorang anak kecil bernama Masha dan seekor beruang.

Dalam serial animasi ini, sosok Masha diperlihatkan sebagai anak kecil yang periang, suka bermain, tidak takut sama apa pun dan sedikit jahil.

Perilaku Masha inilah yang kadang mengundang tawa dan sekaligus gemes dari para penonton. Tidak hanya Masha, sosok beruang yang menjadi sahabat Masha pun memiliki karakter yang sangat unik.

Beruang yang di kehidupan nyata dikenal sebagai binatang yang menakutkan, di kartun ini ditampilkan 360 derajat sangat berbeda, beruang menjadi sosok yang baik hati, sabar dan penyayang.

Tapi jika diperhatikan dengan saksama, Masha adalah satu-satunya manusia yang ada di kartun tersebut. Namun pernah kamu berpikir siapa ibu dan bapak dari Masha?

Di episode awal Masha and The Bear yang berjudul 'How They Met', hanya memperlihatkan Masha yang sedang bermain di dalam rumah lalu keluar dan mengikuti kupu-kupu ke dalam hutan lalu bertemu dengan sang beruang. Tidak ada penjelasan perihal siapa keluarga Masha yang sesungguhnya meskipun di beberapa episode ada yang menayangkan perihal saudara kembar Masha yaitu Dasha.

Dihimpun brilio.net dari berbagai literatur, salah satunya situs mashabear.com, Senin (8/6), ternyata serial animasi Masha and The Bear diadaptasi dari cerita rakyat Rusia dengan judul yang sama namun cerita yang berbeda seperti yang dibuat oleh Andrei Dobrunov, Oleg Kuzovkov dan Dmitry Loveiko.

Dalam cerita rakyat tersebut Masha tinggal bersama kakek dan neneknya lalu suatu hari teman-teman Masha mengajak Masha ke dalam hutan. Saat perjalanan, Masha terpisah dengan teman-temannya dan dia pun tersesat.

Setelah berjalan mengelilingi hutan, akhirnya Masha menemui sebuah rumah, yaitu rumah seekor beruang. Masha masuk ke dalam rumah dan ternyata beruang ada di dalamnya. Ketakutan, beruang menangkap Masha dan mengatakan bahwa beruang tidak akan memakannya jika Masha ingin bekerja untuk sang beruang. Akhirnya selama beberapa waktu Masha bekerja untuk beruang mulai dari memasak hingga membersihkan rumah.

Suatu hari Masha rindu dengan kakek dan neneknya, dia pun membuatkan kue untuk mereka dan menyuruh si beruang untuk membawakan kue tersebut kepada kakek dan neneknya dengan syarat bahwa Masha selamanya menjadi pembantunya.

Alhasil beruang mengiyakan dan mengantar kue tersebut. Karena Masha anak yang cerdas, dia menyusup masuk ke keranjang kue yang dibawa beruang, akhirnya Masha terbebas dari beruang dan dapat bertemu dengan kakek dan neneknya.

Cerita rakyat Rusia ini  memang menjelaskan bahwa Masha adalah anak yatim piatu yang dirawat oleh kakek dan neneknya. Kisah tersebut yang kemudian diangkat menjadi serial animasi lalu dibuat dengan karakter yang lucu tanpa pemeran antagonis.

Monday, December 29, 2014

20 Daftar Film yang Paling Banyak Dibajak Tahun 2014


Hasil karya seni telah berada di bawah payung undang-undang hak kekayaan intelektual. Namun, tak sedikit orang atau kelompok tertentu yang melakukan pembajakan atas karya tersebut. Pembajakan dapat berupa mengunduh ilegal musik maupun film.

Menurut Excipio, perusahaan telah melacak film apa saja yang banyak dibajak selama 2014. Ternyata, film paling banyak dibajak tahun ini adalah The Wolf of Wall Street dengan 30.035 juta unduhan di Torrent.

Posisi nomor dua ditempati oleh film animasi Frozen dengan 29.919 juta unduhan. Disusu posisi berikutnya RoboCop dengan 29.879 juta. Selain itu, film Gravity, The Hobbit: The Desolation of Smaug, serta beberapa film Marvel – Captain America, Thor, serta X-Men – dan nominator Oscar 2014 paling sering dibajak.

Ya, boleh dikatakan ini adalah risiko dari sebuah keberhasilan atau ketenaran. Tetapi, sampai kapan mau menikmati hasil bajakan? Yuk Sobat Lintas, kita beli album musik asli plus membeli DVD atau Blu-ray oroginal atau melihat film di bioskop.


1. The Wolf of Wall Street - 30.035 juta
2. Frozen - 29.919 juta
3. RoboCop - 29.879 juta
4. Gravity - 29.357 million
5. The Hobbit: The Desolation of Smaug - 27.627 juta
6. Thor: The Dark World - 25.749 juta
7. Captain America: The Winter Soldier - 25.628 juta
8. The Legend of Hercules - 25.628 juta
9. X-Men: Days of Future Past - 25.628 juta
10. 12 Years a Slave - 23.653 juta
11. The Hunger Games: Catching Fire - 23.543 juta
12. American Hustle - 23.143 juta
13. 300: Rise of an Empire - 23.096 juta
14. Transformers: Age of Extinction - 21.65 juta
15. Godzilla - 20.956 juta
16. Noah - 20.334 juta
17. Divergent - 20.312 juta
18. Edge of Tomorrow - 20.299 juta
19. Captain Phillips - 19.817 juta
20. Lone Survivor - 19.130 juta


https://www.lintas.me/entertainment/other/editor/20-daftar-film-yang-paling-banyak-dibajak

Monday, April 7, 2014

Sutradara Captain America Akui "Berguru" pada The Raid

Kehebatan film The Raid mendapat pengakuan dunia internasional. Bahkan, Anthony Russo, sutradara sekuel Captain America : The Winter Soldier mengakui banyak terinspirasi film asal Indonesia itu.

"Kami sangat suka The Raid, itu merupakan inspirasi besar bagi kami. Kami suka gaya bertarung kinetik seperti itu," aku Russo seperti dikutip dari Comicvine, Senin (7/4/2014).

Tak hanya gaya perkelahian, Russo bersaudara juga mengakui suka dengan cara pengambilan gambar film yang disutradarai Gareth Evans itu. Captain America: The Winter Soldier sendiri saat ini sedang bertengger di puncak box office.

"Pengambilan gambar di The Raid juga. Kami menjalani proses yang sangat panjang bersama para tim pertunjukan ketangkasan yang mengagumkan. Mereka menunjukkan koreografi perkelahian, kemudian merekamnya dan memperlihatkan kepada kami. Kami akan memilih mana yang kami suka dan tidak," katanya.

"Mereka kembali bekerja melakukan itu. Itu proses yang kami kembangkan selama berbulan-bulan. Itu proses yang menyenangkan berusaha mendapatkan urutan yang benar, memastikan semua adegan menjadi unik," lanjutnya.

http://celebrity.okezone.com/read/2014/04/07/206/966630/sutradara-captain-america-akui-berguru-pada-the-raid

Monday, March 24, 2014

Film NOAH tidak lolos sensor di Indonesia

Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Dr. Mukhlis PaEni, mengungkapkan alasannya mengapa NOAH tidak lolos sensor di Tanah Air. Menurutnya cerita dalam film yang dibintangi Russel Crowe itu tidak sesuai dengan kisah yang sebenarnya, seperti yang diterangkan dalam Alquran.

"Kontennya tidak sesuai dengan kisah yang ada di Alquran, di Alkitab juga tidak sesuai," ungkap Mukhlis, saat dihubungi wartawan, Senin (24/3/2014).

Film Noah memang mendapat banyak penolakan dari beberapa negara di Timur Tengah, seperti Qatar, Bahrain dan Uni Emirat Arab. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan bagi LSF untuk memutuskan film NOAH tidak dapat tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Menurutnya, jika NOAH ditayangkan di Indonesia, dapat menimbulkan banyak kontroversi.

"Tidak mendapat respon baik hampir di semua negara Islam. Kita sebagai negara mayoritas menganggap kalau diputar memancing keributan," tandasnya.


http://celebrity.okezone.com/read/2014/03/25/206/960286/alasan-noah-ditolak-di-indonesia

Thursday, April 25, 2013

10 Film Indonesia Paling Kontroversial

1. Tanda Tanya
Film garapan Hanung Bramantyo ini menjadi kontroversi karena mengandung unsur pluralisme, yang dianggap tindakan murtad oleh beberapa kelompok penganut agama yang fanatik. Pun demikian, film ini mendulang sukses dengan menyedot 100.000 penonton hanya dalam waktu 5 hari. Film ini juga sempat menjadi heboh saat akan diputar di salah satu stasiun televisi swasta. Kelompok pemuka agama mendatangi kantor stasiun televisi tersebut dan menuntut agar film ini tak ditayangkan.

2. Pocong Mandi Goyang Pinggul
http://4.bp.blogspot.com/-9QT6eKY1Now/T19b4yDXihI/AAAAAAAACTw/KXE--6TO9oc/s1600/akicuced.jpg
Menggaet bintang film porno luar negeri, Sasha Grey dalam penggarapan film ini, menuai kecaman dari beberapa pihak. Film bergenre horor komedi ini, dinilai tidak layak untuk diangkat di bioskop Indonesia karena beberapa adegan yang memang khusus untuk dewasa.

3. Suster Keramas 2
Film Indonesia kembali menggaet bintang film porno luar negeri. Sora Aoi atau lebih dikenal dengan nama Sora Aoi ikut bermain dalam film horor Indonesia yang merupakan sekuel dari film suster keramas yang dulu dibintangi oleh Rin Sakuragi. Dikabarkan bahwa honor Sora Aoi untuk berakting di film Suster Keramas 2 lebih mahal ketimbang bintang porno asal Jepang lainnya seperti Miyabi atau Rin Sakuragi.

4. 13 Cara memanggil Setan
Awalnya Film 13 Cara Memanggil Setan menimbulkan kontroversi karena masyarakat banyak yang kesurupan usai mempraktikkan cara-cara memanggil setan setelah menonton film tersebut. Namun, film besutan sutradara A Leung Wong dari Hongkong itu tetap menarik perhatian masyarakat pecinta film horror tanah air. Bahkan sejak didemo oleh salah satu ormas agama, karena adegan Debby Ayu dan Five Vi yang dinilai terlalu vulgar, respon masyarakat untuk menonton film ini tetap saja tinggi.

5. Arwah Goyang Karawang
Film ini banyak menuai protes bukan karena dibintangi oleh artis-artis hot, Julia Perez dan Dewi Perssik. Di sini adalah awal dari pertikaian Jupe dan DP yang berkepanjangan. Mereka terlibat kontak fisik di luar skenario yang kemudian kasusnya diseret ke meja hijau. Setelah berlarut-larut tanpa ada titik terang, akhirnya dalam sidang terakhir Dewi Perssik menyatakan bahwa dia memaafkan Julia Perez dalam kasus ini.

6. Pelukan Janda Hantu Gerondong
Film ini jadi terkenal seiring tersebarnya video adegan mandi yang sedang dilakukan Aida Saskia dalam salah satu adegan dalam film ini. Kasus yang menimpa Aida ini otomatis membuat gempar berita di media. Aida Saskia bahkan sempat pingsan saat press conference terkait kasus tersebarnya video ini.

7. Pacar Hantu Perawan
Dalam film yang diproduseri KK Dheraj ini, Dewi Perssik dikabarkan mengoperasi keperawanannya demi peran dalam film tersebut. Produser film ini berani membayar Dewi Perssik Rp 1 miliar jika melakukan operasi selaput dara. Pun demikian, Dewi Perssik mengaku bahwa sebenarnya ia menerima tantangan tersebut tidak hanya demi uang semata.

8. Arwah Kuntilanak Duyung
Film horror akhir tahun yang dibintangi oleh Dewi Perssik dan juga Saiful Jamiell ini mengandung sedikit kontroversi terkait posternya. Tulisan "Tepat di kilometer sembilan puluh tujuh, jalan Tol Cipularang diselimuti ratapan pilu. Tepat di tempat haus darah itu, arwah kuntilanak duyung menunggumu". Dikabarkan bahwa Saipul Jamiell merasa keberatan pada produser, lantaran kisah kecelakaan yang menewaskan istrinya, Virginia Anggraini dijadikan hiasan pada poster film tersebut. Syuting film ini sendiri berlangsung sebelum kecelakaan maut tersebut.

9. Skandal
Film ini belum-belum sudah menuai kecaman atas sajian di dalamnya. Bagaimana tidak? Adegan awal dari film ini kita sudah disambut dengan adegan masturbasi Mischa, yang diperankan oleh Uli Aulani. Film drama ini cukup mendebarkan pada sekuel-sekuel akhir yang tiba-tiba menjadi thriller yang mengejutkan. Sebuah kisah skandal perselingkuhan dalam sebuah keluarga ini dengan sangat apik digarap oleh sutradara dilihat dari penggambaran situasi yang tepat.

10. Misteri Hantu Selular
Film horror yang dibintangi artis-artis muda seperti Gita Sinaga, Umar Syarief, Boy Hamzah ini menyimpan sebuah misteri tersembunyi di balik proses produksinya. Proses produksi film ini harus dilalui dengan kematian 2 kru pendukungnya secara misterius. Hal itu ditengarai karena ada larangan untuk menceburkan diri ke dalam telaga warna di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Sedangkan satu kru artitik juga tiba-tiba meninggal akibat serangan jantung setelah menggali sebuah kuburan untuk keperluan produksi.
 
 

Tuesday, November 27, 2012

Jackie Chan Siapkan Film Perpisahan


Aktor laga, Jackie Chan mengumumkan pengundurdiriannya dari dunia akting yang telah membesarkan namanya. Setelah berkarir di dunia akting selama lebih dari 30 tahun. Ia mengatakan bahwa dirinya sudah tidak muda lagi, fisiknya pun sudah tidak seprima 10 tahun lalu. “Saya masih akan melakukan banyak hal, sebanyak yang saya mampu. Tapi saya hanya tidak akan lagi mengambil risiko hidup yang dapat membuat saya duduk di kursi roda, itu saja,” katanya. Mengingat Chan tidak pernah memakai stuntman saat melakukan aksi berbahaya.

Sebagai perpisahan dari dunia akting, ia menyiapkan film laga terbarunya, Chinese Zodiac 2012 sebagai aksi laga besar terakhirnya di layar lebar. Film ini ditulis, disutradarai, dan diproduksi sendiri oleh Jackie Chan. Rencananya film ini akan rilis di bioskop-bioskop China bulan depan. Chan, yang akan menjadi pemeran utama, menegaskan bahwa ini adalah film terbaik dari dirinya dalam 10 tahun terakhir ini.




Dalam film tersebut, Chan berperan sebagai pemburu harta karun dan berusaha memulangkan kepala patung 12 hewan dari zodiak China, yang diambil dari Istana Musim Panas Beijing oleh pasukan Prancis dan Inggris selama Perang Candu. Chan mengaku film ini sangat penting baginya karena masyarakat akan melihat aksi besar terakhirnya.

http://www.jelajahunik.us/2012/11/jackie-chan-siapkan-film-perpisahan.html

Monday, October 1, 2012

Pengakuan Anwar Congo, Algojo di Masa PKI 1965


Untuk pertama kalinya dalam sejarah film Indonesia, sebuah film dokumenter menampilkan pengakuan seorang algojo PKI. Namanya Anwar Congo. Ia preman bioskop Medan. Dalam film The Act of Killing yang dibesut sutradara Joshua Oppenheimer itu, ia memperagakan ulang kekerasan-kekerasan yang pernah dilakukannya.
Film itu menampilkan kesadaran Anwar tentang bagaimana menjadi seorang pembunuh dan bagaimana seandainya menjadi korban yang dibunuh. Saat The Act of Killing diputar di Festival Film Toronto, pers Barat menyebut film itu mengerikan dan mengguncang batin. Itu karena Anwar tampak bangga dengan tindakannya. Bisakah film ini mengubah cara pandang masyarakat Indonesia tentang sejarah kelam 1965? Laporan utama majalah Tempo edisi 1 Oktober 2011 berjudul "Pengakuan Algojo 1965" mengungkap hal tersebut.
Pembawaannya riang. Ia dikenal jago dansa. Penggemar Elvis Presley dan James Dean itu mengatakan sering membunuh sembari menari cha-cha. "Saya menghabisi orang PKI dengan gembira," katanya. Dalam sebuah adegan, bersama rekannya sesama algojo 1965, ia terlihat naik mobil terbuka menyusuri jalan-jalan di Medan. Mereka bernostalgia ke tempat-tempat mereka pernah membunuh di antaranya sepotong jalan tempat ia menyembelih banyak warga keturunan Tionghoa. "Setiap ketemu Cina, langsung saya tikam…."
Pengakuan "jujur" preman bernama Anwar Congo dalam film yang bakal ditayangkan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di Jakarta pada Oktober tahun ini tersebut bisa membuat siapa saja terperangah. Ada heroisme di situ. Anwar mengesankan dirinya penyelamat bangsa. Satu versi menyebutkan hampir satu juta orang PKI terbunuh pasca-1965. Ini pelanggaran hak asasi berat. Anwar hanyalah salah satu pelaku pembunuhan. Di berbagai daerah, masih banyak "Anwar" lain.

Tempo kali ini mencoba melihat peristiwa 1965 dari perspektif para algojo. Tak ada niat kami membuka aib atau menyudutkan para pelaku. Politik Indonesia pada masa itu sangat kompleks. Menjelang tragedi September, konflik PKI dan partai politik lain memanas. PKI, yang merasa di atas angin, menekan penduduk yang tidak sealiran. Ketika keadaan berbalik, luapan pembalasan tak terkendali. Pembunuhan direstui oleh sesepuh masyarakat dan tokoh agama. Masa 1965-1966 tak bisa dinilai dengan norma dan nilai-nilai masa kini. Membaca sejarah kelam Indonesia pada masa itu hanya dapat dilakukan dengan memperhatikan konteks sosial-politik-ekonomi pada masa itu pula.

Tapi kita juga tahu betapa tak simetris informasi tentang tragedi 1965. Saat itu, semua koran dikuasai militer. Masyarakat dicekoki cerita bahwa komunis adalah musuh negara yang identik dengan ateisme. Militer menyebarkan daftar anggota PKI yang harus dihabisi. Militer melindungi para pelaku, bahkan menyuplai mereka dengan senjata. Di beberapa tempat, ada narapidana yang sengaja dilepaskan untuk memburu "sang musuh negara". Itu membuat para algojo menganggap wajar tindakan mereka.

Sejarah berulang: di sini dan di tempat lain. Di Israel, pernah seorang aparat kamp konsentrasi Nazi bernama Adolph Eichmann diadili. Ia pelaku pembantaian ratusan orang Yahudi. Ia merasa tak bersalah karena menganggap itu tugas negara. Filsuf Jerman, Hannah Arendt, yang mengamati sidang itu pada 1963, menulis buku terkenal Eichmann in Jerusalem: A Report of the Banality of Evil. Arendt melihat para eksekutor seperti Eichmann bukan pengidap skizofrenia atau psikopat, melainkan warga biasa yang menganggap wajar tindakannya karena dibenarkan negara. Arendt menyebut fenomena ini sebagai kedangkalan yang akut.
Seorang algojo menyatakan moralitas itu sesuatu yang relatif. Pembunuhan memang dilarang, tapi harus dilakukan untuk menyelamatkan bangsa dan agama. Ada pula yang diam-diam menyadari kesalahannya. Anwar, yang dalam film terlihat brutal, mengalami pergolakan batin tentang apa yang diperbuatnya.

Menurut Oppenheimer, sang sutradara, sepanjang pembuatan film, Anwar ada kalanya seperti menyesali perbuatannya. Rasa heroik dan bersalah bersitegang di dalam diri mantan algojo. Seorang mantan jagal harus dipasung keluarganya karena, bila mengingat-ingat pembunuhan yang dilakukannya, ia ke luar rumah mengayun-ayunkan parang dan celurit.

http://id.berita.yahoo.com/pengakuan-anwar-congo-algojo-di-masa-pki-1965-232510883.html

Asal Usul Sejarah Film Dokumenter di Dunia


Film dokumenter tidak seperti halnya film fiksi (cerita) merupakan sebuah rekaman peristiwa yang diambil dari kejadian yang nyata atau sungguh-sungguh terjadi. Definisi “dokumenter” sendiri selalu berubah sejalan dengan perkembangan film dokumenter dari masa ke masa. Sejak era film bisu, film dokumenter berkembang dari bentuk yang sederhana menjadi semakin kompleks dengan jenis dan fungsi yang semakin bervariasi. Inovasi teknologi kamera dan suara memiliki peran penting bagi perkembangan film dokumenter. Sejak awalnya film dokumenter hanya mengacu pada produksi yang menggunakan format film (seluloid) namun selanjutnya berkembang hingga kini menggunakan format video (digital). Berikut adalah ulasan singkat mengenai perkembangan sejarah film dokumenter dari masa ke masa.
..
Era Film Bisu

 
Sejak awal ditemukannya sinema, para pembuat film di Amerika dan Perancis telah mencoba mendokumentasikan apa saja yang ada di sekeliling mereka dengan alat hasil temuan mereka. Seperti Lumiere Bersaudara, mereka merekam peristiwa sehari-hari yang terjadi di sekitar mereka, seperti para buruh yang meninggalkan pabrik, kereta api yang masuk stasiun, buruh bangunan yang bekerja, dan lain sebagainya. Bentuknya masih sangat sederhana (hanya satu shot) dan durasinya pun hanya beberapa detik saja. Film-film ini lebih sering diistilahkan “actuality films”. Beberapa dekade kemudian sejalan dengan penyempurnaan teknologi kamera berkembang menjadi film dokumentasi perjalanan atau ekspedisi, seperti South (1919) yang mengisahkan kegagalan sebuah ekspedisi ke Antartika.

 
Tonggak awal munculnya film dokumenter secara resmi yang banyak diakui oleh sejarawan adalah film Nanook of the North (1922) karya Robert Flaherty. Filmnya menggambarkan kehidupan seorang Eskimo bernama Nanook di wilayah Kutub Utara. Flaherty menghabiskan waktu hingga enam belas bulan lamanya untuk merekam aktifitas keseharian Nanook beserta istri dan putranya, seperti berburu, makan, tidur, dan sebagainya. Sukses komersil Nanook membawa Flaherty melakukan ekspedisi ke wilayah Samoa untuk memproduksi film dokumenter sejenis berjudul Moana (1926). Walau tidak sesukses Nanook namun melalui film inilah pertama kalinya dikenal istilah “documentary”, melalui ulasan John Grierson di surat kabar New York Sun. Oleh karena peran pentingnya bagi awal perkembangan film dokumenter, para sejarawan sering kali menobatkan Flaherty sebagai “Bapak Film Dokumenter”.
..
Sukses Nanook juga menginspirasi sineas-produser Merian C. Cooper dan Ernest B. Schoedsack untuk memproduksi film dokumenter penting, Grass: A Nation's Battle for Life (1925) yang menggambarkan sekelompok suku lokal yang tengah bermigrasi di wilayah Persia. Kemudian berlanjut dengan Chang: A Drama of the Wilderness (1927) sebuah film dokumenter perjalanan yang mengambil lokasi di pedalaman hutan Siam (Thailand). Eksotisme film-film tersebut kelak sangat mempengaruhi produksi film (fiksi) fenomenal produksi Cooper, yaitu King Kong (1933). Di Eropa, beberapa sineas dokumenter berpengaruh juga bermunculan. Di Uni Soviet, Dziga Vertov memunculkan teori “kino eye”. Ia berpendapat bahwa kamera dengan semua tekniknya memiliki nilai lebih dibandingkan mata manusia. Ia mempraktekkan teorinya melalui serangkaian seri cuplikan berita pendek, Kino Pravda (1922), serta The Man with Movie Camera (1929) yang menggambarkan kehidupan keseharian kota-kota besar di Soviet. Sineas-sineas Eropa lainnya yang berpengaruh adalah Walter Ruttman dengan filmnya, Berlin - Symphony of a Big City (1927) lalu Alberto Cavalcanti dengan filmnya Rien Que les Heures.

Era Menjelang dan Masa Perang Dunia
..
 
Film dokumenter berkembang semakin kompleks di era 30-an. Munculnya teknologi suara juga semakin memantapkan bentuk film dokumenter dengan teknik narasi dan iringan ilustrasi musik. Pemerintah, institusi, serta perusahaan besar mulai mendukung produksi film-film dokumenter untuk kepentingan yang beragam. Salah satu film yang paling berpengaruh adalah Triump of the Will (1934) karya sineas wanita Leni Riefenstahl, yang digunakan sebagai alat propaganda Nazi. Untuk kepentingan yang sama, Riefenstahl juga memproduksi film dokumenter penting lainnya, yakni Olympia (1936) yang berisi dokumentasi even Olimpiade di Berlin. Melalui teknik editing dan kamera yang brilyan, atlit-atlit Jerman sebagai simbol bangsa Aria diperlihatkan lebih superior ketimbang atlit-atlit negara lain.

Di Amerika, era depresi besar memicu pemerintah mendukung para sineas dokumenter untuk memberikan informasi seputar latar-belakang penyebab depresi. Salah satu sineas yang menonjol adalah Pare Lorentz. Ia mengawali dengan The Plow that Broke the Plains (1936), dan sukses film ini membuat Lorentz kembali dipercaya memproduksi film dokumenter berpengaruh lainnya, The River (1937). Kesuksesan film-film tersebut membuat pemerintah Amerika serta berbagai institusi makin serius mendukung proyek film-film dokumenter. Dukungan ini kelak semakin intensif pada dekade mendatang setelah perang dunia berkecamuk.
..
Perang Dunia Kedua mengubah status film dokumenter ke tingkat yang lebih tinggi. Pemerintah Amerika bahkan meminta bantuan industri film Hollywood untuk memproduksi film-film (propaganda) yang mendukung perang. Film-film dokumenter menjadi semakin populer di masyarakat. Sebelum televisi muncul, publik dapat menyaksikan kejadian dan peristiwa di medan perang melalui film dokumenter serta cuplikan berita pendek yang diputar secara reguler di teater-teater. Beberapa sineas papan atas Hollywood, seperti Frank Capra, John Ford, William Wyler, dan John Huston diminta oleh pihak militer untuk memproduksi film-film dokumenter Perang. Capra misalnya, memproduksi tujuh seri film dokumenter panjang bertajuk, Why We Fight (1942-1945) yang dianggap sebagai seri film dokumenter propaganda terbaik yang pernah ada. Capra bahkan bekerja sama dengan studio Disney untuk membuat beberapa sekuen animasinya. Sementara John Ford melalui The Battle of Midway (1942) dan William Wyler melalui Memphis Belle (1944) keduanya juga sukses meraih piala Oscar untuk film dokumenter terbaik.

Era Pasca Perang Dunia

Pada era setelah pasca Perang Dunia Kedua, perkembangan film dokumenter mengalami perubahan yang cukup signifikan. Film dokumenter makin jarang diputar di teater-teater dan pihak studio pun mulai menghentikan produksinya. Semakin populernya televisi menjadikan pasar baru bagi film dokumenter. Para sineas dokumenter senior, seperti Flaherty, Vertov, serta Grierson sudah tidak lagi produktif seperti pada masanya dulu. Sineas-sineas baru mulai bermunculan dan didukung oleh kondisi dunia yang kini aman dan damai makin memudahkan film-film mereka dikenal dunia internasional. Satu tendensi yang terlihat adalah film-film dokumenter makin personal dan dengan teknologi kamera yang semakin canggih membantu mereka melakukan berbagai inovasi teknik. Tema dokumenter pun makin meluas dan lebih khusus, seperti observasi sosial, ekspedisi dan eksplorasi, liputan even penting, etnografi, seni dan budaya, dan lain sebagainya.

Sineas Swedia, Arne Sucksdorff menggunakan lensa telefoto dan kamera tersembunyi untuk merekam kehidupan satwa liar dalam The Great Adventure (1954); Oceanografer Jeacques Cousteau memproduksi beberapa seri film dokumenter kehidupan bawah laut, seperti The Silent World (1954); Observasi kota tampak melalui karya Frank Stauffacher, Sausalito (1948) serta Francis Thompson, N.Y., N.Y. (1957). Mengikuti gaya eksotis Flaherty, John Marshall memproduksi The Hunters (1956) mengambil lokasi di gurun Kalihari di Afrika. Lalu Robert Gardner memproduksi salah satu film antropologis penting, Dead Birds (1963) yang menggambarkan suku Dani di Indonesia dengan ritual perangnya. Di Perancis, beberapa sineas berpengaruh seperti Alan Resnais, Georges Franju, serta Chris Marker lebih terfokus pada masalah seni dan budaya. Resnais mencuat namanya setelah filmnya, Van Gogh (1948) meraih penghargaan di Venice dan Academy Award. Franju memproduksi beberapa film dokumenter berpengaruh seperti Blood of the Beast (1948) dan Hotel des invalides (1951). Sementara Marker memproduksi Sunday in Peking (1956) dan Letter from Siberia (1958).

Direct Cinema
..
Pada akhir 50-an hingga pertengahan 60-an perkembangan film dokumenter mengalami perubahan besar. Dalam produksinya, sineas mulai menggunakan kamera yang lebih ringan dan mobil, jumlah kru yang sedikit, serta penolakan terhadap konsep naskah dan struktur tradisional. Mereka lebih spontan dalam merekam gambar (tanpa diatur), minim penggunaan narasi dengan membiarkan obyeknya berbicara untuk mereka sendiri (interview). Pendekatan ini dikenal dengan banyak istilah, seperti “candid” cinema, “uncontrolled” cinema, hingga cinéma vérité (di Perancis), namun secara umum dikenal dengan istilah Direct Cinema. Beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya tren ini, yakni gerakan Neorealisme Italia yang menyajikan keseharian yang realistik, inovasi teknologi kamera 16mm yang lebih kecil dan ringan, inovasi perekam suara portable, serta pengisi acara televisi yang popularitasnya semakin tinggi. Pendekatan Direct Cinema terutama banyak digunakan sineas asal Amerika, Kanada, dan Perancis.

 
Di Amerika, pengusung Direct Cinema yang paling berpengaruh adalah Robert Drew, seorang produser yang juga jurnalis foto. Drew membawahi beberapa sineas dokumenter berpengalaman seperti, Richard Leacock, Don Pannebaker, serta David dan Albert Maysles. Drew memproduksi film-film dokumenter yang lebih ditujukan untuk televisi, satu diantaranya yang paling berpengaruh adalah Primary (1960). Film ini menggambarkan kontes politik antara John Konnedy dan Hubert Humprey di Wisconsin. Drew bersama para asistennya merekam momen demi momen secara spontan. Secara bergantian kamera mengikuti kemana pun dua politisi tersebut pergi, di tempat kerja, bertemu publik di jalanan, berpidato, dan bahkan ketika tengah bersantai di hotel. Dalam perkembangan Leacock, Pannebaker, dan Maysles meninggalkan perusahaan milik Drew dan membentuk perusahaan mereka sendiri. Beberapa diantaranya memproduksi film-film dokumenter penting, seperti What’s Happening! The Beatles in New York (1964) arahan Maysles Bersaudara yang dianggap merupakan film dokumenter Amerika pertama tanpa penggunaan narasi sama sekali.

Di Perancis, salah satu pengusung cinéma vérité yang paling berpengaruh adalah Jean Rouch. Salah satu karyanya yang dianggap paling berpengaruh (bahkan di dunia) adalah Cronicle of a Summer (1961). Rouch berkolaborasi dengan sosiologis, Edgar Morin menggunakan pendekatan baru cinéma vérité, yakni tidak hanya semata-mata melakukan observasi dan bersimpati namun juga provokasi. “You push these people to confess themselves… it’s very strange kind of confession in front of the camera, where the camera is, let’s say, a mirror, and also a window open to the outside” ungkap Rouch. Dalam filmnya tampak Morin berdiskusi dengan pelajar serta para pekerja di Kota Paris tentang kehidupan mereka dengan melayangkan pertanyaan kunci, “Are you happy?”. Rouch membiarkan subyeknya mendefinisikan sendiri masalah mereka secara alamiah melalui performa mereka di depan kamera.
..
Sejak pertengahan 60-an, pengembangan teknologi kamera 16mm dan 35 mm yang semakin canggih serta ringan makin menambah fleksibilitas para pengusung Direct Cinema. Sejak awal 60-an, hampir semua sineas dokumenter telah menggunakan teknik kamera handheld untuk merekam segala peristiwa. Direct Cinema juga berpengaruh pada perkembangan film fiksi secara estetik melalui gerakan new wave, seperti di Perancis. Para sineas new wave seringkali menggunakan kamera handheld, pencahayaan yang tersedia, kru yang minim, serta shot on location. Bahkan film-film (fiksi) mainstream pun seringkali mengadopsi teknik Direct Cinema untuk menambah unsur realisme sebuah adegan. Pendekatan Direct Cinema secara umum berpengaruh perkembangan seni film di dunia terutama pada era 60-an dan 70-an.
..
 
Warisan Direct Cinema dan Perkembangannya Hingga Kini
 
Dalam perkembangannya, Direct Cinema terbukti sebagai kekuatan yang berpengaruh sepanjang sejarah film dokumenter. Berbagai pengembangan serta inovasi teknik serta tema bermunculan dengan motif yang makin bervariasi. Salah satu bentuk variasi dari Direct Cinema yang paling populer adalah “rockumentaries” (dokumentasi musik rock). Rockumentaries memiliki bentuk serta jenis yang beragam. Let it Be (1970) memperlihatkan grup musik legendaris The Beatles yang tengah mempersiapkan album mereka. Woodstock: Three Days of Peace & Music (1970) garapan Michael Wadleigh merupakan dokumentasi dari festival musik tiga hari di sebuah lahan pertanian yang menampilkan beberapa musisi rock papan atas. Woodstock sering dianggap sebagai film dokumenter musik terbaik sepanjang masa dan menjadi dasar berpijak bagi film-film dokumentasi sejenis berikutnya. Pada dekade mendatang, This is Spinal Tap (1984) merupakan sebuah parodi rockumentary yang terbukti paling sukses komersil pada masanya.

Tradisi Direct Cinema juga tampak pada film-film kontroversial karya Fredrick Wiseman. Film-filmnya banyak bersinggungan dengan kontrol sosial, berkait erat dengan birokrasi dan bagaimana masyarakat dibuat frustasi olehnya. Dalam film debutnya, High School (1968) memperlihatkan bagaimana para siswa berontak melawan birokrasi di sekolah mereka. Maysles Bersaudara memproduksi film “Direct Cinema” Amerika berpengaruh, Salesman (1966) yang menggambarkan seorang salesman yang gagal. Sejak era 70-an, format film dokumenter mulai berubah melalui kombinasi pendekatan Direct Cinema, kompilasi footage, narasi, serta iringan musik. Salah satu sineas yang mempelopori format kombinasi ini adalah Emile De Antonio melalui film anti perangnya, Vietnam: In the Year’s of the Pig (1969). Dalam perkembangannya format ini mendominasi gaya film dokumenter selama beberapa dekade ke depan. Munculnya format digital juga semakin memudahkan siapa pun untuk memproduksi film dokumenter. Kritik sosial dan politik, lingkungan hidup, serta keberpihakan kaum minoritas masih menjadi menu utama tema film dokumenter beberapa dekade ke depan.

 

Beberapa sineas dokumenter berpengaruh muncul selama periode 70-an hingga kini. Erol Morris memproduksi film-film dokumenter unik dengan tema dan subyek yang tak lazim, seperti Gates of Heaven (1978), The Thin Blue Line (1988), serta Mr. Death (2000). Barbara Kopple dikenal melalui filmnya bertema demonstasi buruh, yakni, Harlan County, USA (1976) dan American Dream (1990). Michael Moore gemar melakukan kritik sosial dan politik melalui film-filmnya Roger and Me (1989), Bowling for Columbine (2001), Fahrenheit 9/11 (2004) serta Sicko. Kevin Rafferty dikenal melalui film-filmnya seperti The Atomic Café (1982) dan The Last Cigarettes (1999). Pendekatan eksotis Flaherty juga masih tampak dalam film peraih Oscar, March of the Penguins (2005) yang tercatat sebagai film dokumenter terlaris sepanjang masa. Selama sejarah perkembangannya, film dokumenter terbukti dapat lebih manipulatif ketimbang film-film fiksi komersil. Film dokumenter melalui penyajian dan subyektifitasnya seringkali cenderung menggiring kita untuk memihak. Masalah etika dan moral selalu dipertanyakan. Sineas dokumenter seyogyanya tidak hanya mampu menyajikan fakta namun juga kebenaran.


sumber

Sunday, September 16, 2012

Sutradara Film Innocence of Muslims Pembuat Film Porno


Sutradara film Innocence of Muslims, yang menggegerkan dunia Islam, ternyata seorang pembuat film porno. Sutradara bernama Alan Roberts adalah orang yang sama membuat film porno berbiaya murah pada era 70-an dan 80-an antara lain seperti The Sexpert dan trilogi Happy Hooker. Demikian dilansir Gawker, pekan ini.

Film ini menimbulkan kegemparan dan aksi protes di banyak negara-negara berpenduduk Islam, termasuk Indonesia. Para pemain tahu jika film yang judul aslinya, Dessert Warrior, memasukkan nama Alan Roberts sebagai sutradara.

Berdasarkan data IMDB, Santa Monica, California, sutradara berusia 65 tahun ini menyutradarai sejumlah film porno berbujet murah seperti The Happy Hooker Goes to Hollywood dan The Sexpert. Gawker menulis, pihaknya sudah mewawancarai para pemain, kru, dan teman-teman dekat sang sutradara dan membenarkan jika Roberts adalah pria yang sama di film yang diberi judul Innocence of Muslims.
"Saya yakin, ini Alan Roberts yang sama. Saya mengingat sempat membicarakan proyek ini dengan dia," kata teman Roberts, pembuat film David A. Prior. Nama Roberts ditunjuk sebagai sutradara oleh produser, Sam Bacile, yang menggunakan nama alias Nakoula Basseley Nakoula. Pria ini adalah warga California selatan dan sempat dipenjara.

Nakoula, dipercaya adalah tokoh penting di balik pembuatan film berdurasi 14 menit ini. Akibat film ini, membuat anti-protes Barat berkecamuk dan mengakibatkan empat warga Amerika Serikat (AS) tewas di Libya termasuk Duta Besar (Dubes) Chris Stevens. Para pemain di film ini mengaku ditipu dan banyak adegan percakapan mereka diisi ulang.


http://makassar.tribunnews.com/2012/09/16/sutradara-film-innocence-of-muslims-pembuat-film-porno